Langsung ke konten utama

TT : Tentang Timeline

Konten [Tampil]
Timline atau linimasa. Alur, kronologis urutan peristiwa. Dalam istilah media sosial, timeline adalah urutan peristiwa yang diunggah oleh orang-orang dalam lingkar pertemanan. Bersinggungan dengan alogaritma yang kita suka. 
Sedangkan timelapse merupakan teknik yang digunakan untuk merekam perubahan satu objek dalam rentang periode tertentu dari angle yang sama. Hasilnya adalah gradasi perubahan yang memesona. 
Teknik timelapse biasa digunakan dalam fotografi maupun videografi. Misalnya perubahan cakrawala dari pagi hingga sore. Mengamati tumbuhan dari benih sprout sampai menghasilkan bunga atau buah. Bahkan merekam perkembangan fisik seseorang. Dari kecil hingga dewasa. Dalam batasan secara visual yang terlihat oleh mata.

Timeline dan Timelapse mengingatkan tentang waktu dan perubahan. Mengingatkan waktu bergerak cepat dan semua berubah. Anak, kerabat, rekan kerja, tetangga, bangunan, jalan, semuanya. Berubah. Rasanya baru kemarin masuk PAUD, sekarang sudah mau diwisuda S-2. Ruko sebelum perempatan asalnya jualan buah, sekarang jadi kantor alat kesehatan. Semua berubah. Kecuali… Iya. Saya. 

Ada bahagia. Ada rasa bangga. Ada rasa sesal. Ada rasa iri. Campur-baur. Gado-gado. Ketika di timeline memutar hasil timelapse. Berputar-putar di ruang pikir. Meski bukan visual secara nyata tapi terdeteksi oleh rasa. Rasa bahagia berbalut bangga, Tapi seringnya malah rasa sesal berkolaborasi dengan rasa iri. Duet maut terakhir ini, semacam racun yang perlahan menggerogoti. 

Sesal itu diawali dengan kata seandainya. Pencetusnya adalah ketika mulai membandingkan dan menjadikan kehidupan lain sebagai tolak ukur. Timeline mereka bisa jadi sebuah motivasi, tapi sisanya adalah iri. Amunisi untuk dijadikan keluhan pada Tuhan. Sampai menyangsikan semesta. Katanya semesta akan bersatu padu mewujudkan keinginan. Nyatanya malah berkonspirasi untuk menjungkalkan mimpi-mimpi. 
Seandainya selepas SMK tanpa ba-bi-bu, tanpa banyak mikir-mikir, tanpa banyak pertimbangan. Saya langsung daftar kuliah kelas karyawan. Mungkin kehidupan saya tidak akan seperti sekarang. Saya akan bisa seperti W, yang sebelum pandemi menyelesaikan disertasi. Seandainya saya menerima kesempatan untuk bekerja di Jakarta. Berani untuk keluar dari rumah. Memulai petualangan yang sebetulnya gak jauh-jauh amat dari kota tercinta. Bandung. Saya bisa seperti A, yang bisa setahun travelling lebih dari tiga kali.
 
Dari titik keinginan ke titik tujuan. Terbentang garis panjang berisi drama. Yang boro-boro membuat mimpi terwujud. Garis langkahnya malah jadi berkelok-kelok. Bahkan terputus-putus. Sampai kena mental.
Lama-lama timelapse yang seharusnya indah malah jadi menyesatkan. Timeline jadi rentetan penyeselan yang tiba-tiba membuat asam lambung naik. Rambut rontok dan kulit gak mempan lagi pakai skin care
Membandingkan mengapa orang lain berubah sedangkan saya konsisten. Begini-begini saja.

Lalu teringat dengan perkataan teman, beliau adalah seorang penganut aliran hidup super santuy, “why you’re always taking everything seriously? Bukannya hidup ini hanya bercandaan.” 
“Bercandaan??! Maksut lo….?!” Timpal saya dengan jengkel. 
“Hidup ini hanya bercanda.” Kata dia lagi, “hanya permainan dan senda gurau semata.” 

timeline timelapse


Teman saya tidak sepenuhnya salah. Ada benarnya juga. Mengingat beberapa kejadian lalu. Saya teringat ketika bercita-cita ingin memiliki anak sapi. Anak sapi berwarna putih dengan beberapa bercak hitam di kepala dan tubuhnya. Tapi untuk investasi belum cukup. Secara waktu dan materi. Dua bulan kemudian Tuhan mengirimkan anak kucing dengan motif yang sama. putih dengan beberapa bercak hitam di kepala dan tubuhnya. 
Seseorang telah membuang anak kucing itu di halaman rumah kami. Di bawah pohon sirsak dekat bunga lilin. Mungkin Tuhan ingin menguji dulu, jika saya berhasil memelihara anak kucing ini, nanti akan diberi kepercayaan untuk mengurus sapi. Aamiinkeun barudaaaaak…. Aamiin 

Begitu pula ketika dipertemukan dengan seseorang. Satu misi, satu visi. Nyambung untuk diskusi. Lalu berpikir mungkin ini semua jawaban atas do’a-doa yang pernah dipanjatkan. Ehhh, ternyata bukan jawaban do’a. Cuma nambah-nambah persoalan.

Saya suka dengan status Kang HH. Sengaja saya capture dan simpan. Sudah izin beliau juga untuk menyimpannya. Mun kawasa mah sigana rek dikasih pigura. Jadi saya simpan di sini saja.
timeline timelapse



Memang benar, rupanya semesta senang bercanda. Mengapa perlu ditanggapi dengan serius. Tak perlu merasa kalah karena berpacu dengan waktu. Hasilnya tak selalu seperti apa yang kita mau. Semua memiliki timeline sendiri. 

Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti? - QS 6:32

Komentar

  1. Aku ngakak di sapi yang faktanya yang kita miliki kucing berwarna sama, hemm, bener banget hidup yang sebenarnya adalah yang di akhirat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. Terkadang semesta bercanda gak karuan.
      Nuhun

      Hapus
  2. Terdiam dengan kalimat terakhirnya, hidup di dunia ini cuma sementara dan kita harus mengumpulkan bekal untuk hidup yang sebenarnya di akhirat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soon or later. Kita semus pasti sampai ke sana.
      Nuhuun

      Hapus
  3. Aaaamiiiin mbaaa, aku doakan suatu saat mba bakal beneran bisa punya sapi perah 😄👍. Gapapalah sekarang ini punyanya kucing hitam putih dulu 😄.

    Betul mba, hidup mah cuma candaan Yaa. Jangan terlalu dibawa serius. Yg pusing kita juga ntr. Percaya ajalah Ama yg udah digarisin yg di Atas :D. Kita lakuin part nya kita, Dia ntar yang memenuhi sisanya 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Terima kasih.
      Setuju, kita lakukan part kita, sisanya yang di Atas

      Hapus

Posting Komentar

Because today is a present

Postingan populer dari blog ini

Berbagi Kelembutan Bolu Susu Lembang, Oleh-Oleh Bandung Pisan

Anak Peranakan Tulen Dalam tubuh saya mengalir tiga perempat darah Ciamis. Mamah pituin Ciamis. Lahir di Ciamis, semenjak ABG hingga sekarang Mamah menetap di Bandung. Mengikuti suaminya. Iya, suaminya teh , bapak saya.  “ Suami Mamah saya adalah Bapak Saya ” . Seperti judul sinetron nya ? Bapak sendiri berasal dari Banjaran. Tetapi setelah ditelusuri silsilanya eh, masih ada keturunan Ciamis. Jadi lah saya ini berdarah campuran. Walapun hanya seperempat dan tiga perempat . B angga pisan berdarah indo. Kudu bangga atuh, da saya termasuk produk indo memenuhi standar kearifan lokal.

A Battle Inside

Every lover got to be a fighter. 'Cause if you don't fight for your love. What kind love do you have - Keeanu Reeves Sejak beberapa tahun terakhir, sebelum tidur. Ketika ruh akan berkelana dan fisik memasuki waktu istirahat. Padahal kenyataannya organ-organ dalam tumbuh kita tetap bekerja. Saya menyempatkan untuk mengucapkan terima kasih pada diri sendiri.  A battle of Me

Tantangan Berkebun Di Perkotaan

Tahun 2019, saya memutuskan untuk berkebun dengan serius . Perlu saya garis bawahi kata serius ini. Serius. Gak main-main.   Saya ingin membuat satu sistem berkebun yang berkesinambungan. Selaras dengan alam serta mendukung misi pemerintah. Menciptakan ketahanan pangan. Membentuk masyarakat yang berdaya guna tingkat dewa. Halaaaaah, panjang amat   dan agak-agak halu. Any way sebab mengapa saya berkebun bisa melipir ke sini . Setidaknya ada dua tantangan yang harus dihadapi ketika memulai berkebun di perkotaan. Tantangan yang bersifat minor dan mayor. Apa saja tantangannya itu? Hayuuuk kita preteli.