Langsung ke konten utama

Peran Penting Membuat Outline

 Dalam membuat tulisan seringkali ide-ide berhamburan dalam kepala. Ide-ide tiba-tiba muncul dan mendistraksi tema tulisan yang sedang dibuat. Namun ada kalanya ide sama sekali tidak muncul. Ide yang tak kunjung datang membuat bingung apa yang akan ditulis. Dua kejadian tadi, kebanyakan ide maupun nihil ide merupakan gangguan yang sering dialami oleh semua orang. Awal terjun menjadi nara blog, saya adalah nara blog yang menulis langsung begitu tercetus ide dalam pikiran. Menulis blog adalah cara saya merespon atas sebuah kejadian. Menuliskan pendapat, karena saya kurang bisa mengungkapkan secara lisan. Jadi ketika ada yang mengganggu pikiran, menuangkannya dalam tulisan. Blog bagi saya adalah perpanjangan dari buku diary.

Menulis secara spontan adalah tindakan menulis dengan kondisi sedang ‘mood’. Jika hilang ‘mood’ maka satu tulisan pun tidak akan bisa diselesaikan. ‘Mood’ datangnya tidak bisa diprediksi. Hal ini akan menyulitkan jika diminta untuk menulis tulisan dengan tema tertentu.

pembuatan outline

Membuat tulisan dengan tema tertentu adalah sebuah tantangan. Bagi saya hal ini sebagai ajang belajar hal baru mengenai yang akan ditulis. Walau misalnya tema yang diangkat dekat dengan keseharian kita, karena kita akan memberikan value pada tulisan dengan tema tertentu. Tetapi bagi penulis ‘mood-mood-an’ seperti saya ini, jika mood sedang tidak ada, akan sangat menyulitkan. Oleh karenanya sangat penting membuat outline sebelum menulis. Terutama tulisan dengan tema-tema tertentu. Bukan berarti tulisan curhat bebas dari outline.  

Outline atau kerangka adalah garis besar atau susunan rencana yang akan dieksekusi. Sehingga tujuan dari tulisan itu tercapai. Susunan outline yang baik adalah sebagai berikut:

1.  Judul

2.  Tema

3.  Latar belakang masalah

4.  Tujuan

5.  Manfaat

6.  Nara sumber

7.  Konten pendukung

8.  Kesimpulan

9.  Daftar Pustaka

10.            Tengat waktu.

 

Point-point tersebut sudah sangat jelas, tinggal dijalankan rencana yang sudah ditulis. Ada banyak manfaat ketika membuat tulisan dengan membuat kerangka penulisan terlebih dahulu.  Diantaranya:

-          Tulisan yang dibuat menjadi lebih berisi.

-          Mengendalikan ide-ide liar yang ada dalam pikiran. Sehingga tulisan menjadi lebih terarah dan fokus pada tema.

-          Dapat membantu mencairkan kebuntuan ide.

-          Disiplin untuk menyelesaikan tulisan dengan target waktu yang jelas

 

Pada point 6 dan 7 untuk mencari sumber bacaan atau nara sumber dalam mendukung tulisan. Rasanya tidak salah juga membuat outline terlebih dahulu untuk tulisan curhat. Setidaknya tulisan itu tidak sekadar curhat tapi menjelma menjadi satu tulisan ‘review’.

Mengingat sekarang kita berada di era informasi teknologi yang tumbuh dengan pesat. Di mana arus informasi membanjiri, banyak kabar-kabar yang menjadi bias. Opini yang membuat kita jadi bingung. Tak sering perang opini yang membenturkan pembaca. Pembaca menjadi terbagi beberapa kubu. Sebagai nara blog rasanya tidak perlu berkontribusi menyumbang perpecahan. Dengan membuat kerangka, kita dapat mencari rujukan yang tepat untuk mendukung tulisan yang dibuat. Karena tulisan harus dapat dipertanggungjawabkan.

Target waktu yang jelas. Sebagai nara blog, mengelola blog secara mandiri, sering kali memberi toleransi berlebihan. Karena alasan ini dan itu, akhirnya posting menjadi delay yang tak terhingga.  Tetapi dengan kejelasan waktu, menjadi terpicu untuk mengerjakan. Dan kita bisa beralih pada pembuatan tulisan atau kegiatan lain.

Outline sangat membantu banyak. Saya pribadi tidak hanya menerapkan ketika ingin menulis saja, saya juga menerapkan untuk beberapa aktivitas. Salah satunya dalam berolahraga.

Saya memutuskan untuk melakukan olahraga secara mandiri. Ketika pemerintah kota Bandung mengumumkan mengumumkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), saya tidak bisa berolahraga di tempat biasa. Klub olahraga di-suspend hingga masa yang tidak ditentukan.  Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda kami akan berkumpul lagi. Karena mind set saya olahraga itu harus di tempat yang dituju, maka kegiatan berolahraga menjadi tidak jalan.

Padahal sejak lebih sering di rumah di mana tingkat memamah biak menjadi tinggi. Pemasukan kalori lebih besar dari pembakaran. Kalori yang masuk tidak terkontrol, pembakaran hampir tidak ada. Badan yang biasanya bergerak menjadi sakit. gampang lelah. Maunya rebahan dan mager depan laptop. Nonton Netflix.

Sebelumnya saya terdaftar di kelas yoga dan aerobik. Kelas aerobik tidak begitu banyak kesulitan, Karena semua fun. Tetapi karena saya terlalu banyak duduk, saya ingin kegiatan yang dapat membantu masalah pada tulang punggung dan daerah sekitar punggung.

Jadi saya memutuskan untuk melakukan yoga lagi. Untuk melakukan secara mandiri saya melihat-lihat kelas yoga di Youtube dan Instagram. Begitu banyak pose-pose di sana. Semua menarik dan ingin dipelajari. Dan sekali lagi, banjir informasi. Menumpuk di otak sehingga tak satu pun dieksekusi.

Pernah dalam satu kali kesempatan, setelah menggelar matras, saya malah bingung akan melakukan pose apa. Setelah meditasi saya kebingungan apakah saya melakuan pigeon pose, cat pose, plank, downdog atau apa? Bingung. Akhirnya saya memutuskan child pose. Lalu kembali hanya scrolling video-video, daripada melakukan gerakan yoga.

Lalu saya berpikir mengapa tidak membuat outline untuk kegiatan olahraga? saya membuat kerangka pose apa saja yang harus dilakukan. Goal ingin saya capai dari pose-pose tersebut. Berapa lama saya akan melakukan pose itu sebelum mengganti (meningkatkan) ke pose berikutnya. Tak lupa saya menuliskan hari apa dan jam berapa saya melakukan yoga. Meskipun untuk diri sendiri, rasanya harus ditetapkan durasi.

Membuat kerangka sangat penting. Selain untuk kegiatan menulis, kerangka dapat diterapkan untuk kegiatan lain. Memudahkan untuk mengelola ide, membantu dalam pencapaian goal setting yang sudah ditetapkan.

:: Tulisan disarikan dari Materi Batch 2 ISB Course tanggal 08 Agustus 2020::

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan belum menikah dilarang sakit Asam Lambung

Siang itu, saya datang ke pantry tetangga sambil meringis menahan sakit. Sejak Senin lalu, dokter memvonis saya dengan asam lambung berlebih. Dada rasanya terbakar, setiap menarik nafas. Sesak. Saya benar-benar kaget mengetahuinya. Komponen utama asam lambung yaitu asam chloride. Salah satu anggota golongan asam kuat. Perpaduan dengan senyawa ‘X’ akan menghasilkan sesuatu yang dahsyat. Satu larutan yang mampu merontokkan logam. Moal dibeja-an senyawa X itu apa, bisi diturutan. Coba-nya kalau bisa dikeluarkan si asam lambung dari perut saya. Lalu dijual. Akan menguntungkan meureun. Karena asam chloride ini banyak yang membutuhkan.

Berbagi Kelembutan Bolu Susu Lembang, Oleh-Oleh Bandung Pisan

Dalam tubuh saya mengalir tiga perempat darah Ciamis. Mamah pituin Ciamis. Lahir di Ciamis, semenjak ABG hingga sekarang Mamah menetap di Bandung. Mengikuti suaminya. Iya, suaminya teh, bapak saya. 
“Suami Mamah saya adalah Bapak Saya. Seperti judul sinetron nya? Bapak sendiri berasal dari Banjaran. Tetapi setelah ditelusuri silsilanya eh, masih ada keturunan Ciamis. Jadi lah saya ini berdarah campuran. Walapun hanya seperempat dan tiga perempat.Banggapisanberdarah indo. Kudu bangga atuh, da saya termasuk produk indo memenuhi standar kearifan lokal.

Tantangan Berkebun Di Perkotaan

Tahun 2019, saya memutuskan untuk berkebun dengan serius. Perlu saya garis bawahi kata serius ini. Serius. Gak main-main. Saya ingin membuat satu sistem berkebun yang berkesinambungan. Selaras dengan alam serta mendukung misi pemerintah. Menciptakan ketahanan pangan. Membentuk masyarakat yang berdaya guna tingkat dewa. Halaaaaah, panjang amatdan agak-agak halu. Any way sebab mengapa saya berkebun bisa melipir ke sini. Setidaknya ada dua tantangan yang harus dihadapi ketika memulai berkebun di perkotaan. Tantangan yang bersifat minor dan mayor. Apa saja tantangannya itu? Hayuuuk kita preteli.