Minggu, 15 September 2019

Kuliah di UT dan Mendapatkan Beasiswa


Akhir Tahun 2017, saya mendaftar di UT (Universitas Terbuka). Kurang dari lima hari sebelum pendaftaran ditutup. Kuliah adalah hal yang sudah saya kubur, rasanya selain tidak akan kaotakan, teu katanagaan, mood-nya sudah beralih orientasi. Dulu memang saya pernah beberapa kali ikut kelas karyawan, eugh atuda selepas lulus sekolah perjalanan nasib membawa saya ke dunia karyawan. Bukan dunia kampus. Pas lulus SMK  mah semangat nga-gedur (artinya kurang lebih sama dengan semangat 45) untuk melanjutkan studi. Sempat ikut beberapa kelas karyawan di berbagai sekolah tinggi swasta. Dari sekolah tinggi yang izinnya sudah ada sampai yang masih dipikirkan saya jabanin. Sampai ada sekolah tinggi yang kabarnya sekarang teuing kumaha. Mungkin entah belum jodoh, atau hormon hoream terlalu menguasai tubuh. Kandas semua dunia perkuliahan saya saat itu. Dan setiap tahun selalu ada resolusi untuk melanjutkan. Tapi pasti sudah hapal, nasib resolusi itu hanya ada dalam catatan. Belum sampai tahap eksekusi.


Justru ketika kuliah tidak masuk dalam daftar resolusi, keinginan kuliah sudah pupus. Saya malah memberanikan diri mendaftar jadi mahasiswa di usia sekian (sekian weh yaaa… tak usah ditulis nominalnya).  
Hidup hakekatnya menghubungkan satu titik dengan titik yang lain. Connecting the dots, saur mendiang Steven Jobs.
Leuit
Leuit

Pulang dari Sukabumi. Waktu itu diajak oleh Teh Efi Fitriyah. Sekitar September 2017. Di sana saya bertemu dengan Abah Asep Nugraha. Kasepuhan Desa Sinar Resmi. Salah satu pelajaran yang saya ambil adalah mengenai sistem ketahanan pangan yang sudah dipiara berabad-abad lamanya. Dari awal mula mempersiapkan penanaman hingga sistem penggudangan. Distribusi dan pemanfaatan hasil panen. Salah satunya adalah mereka sudah mempraktikkan cara menyimpan beras sesuai tafsir mimpi Nabi Yusuf. Yaitu menyimpan beras bersama tangkainya. (QS 12; 47)
Sebagai pituin orang Sunda tentu saya merasa bangga sekaligus malu. Bego, kemana lu selama ini??? Jadi orang Sunda gak tahu. Tapi ngata-ngatain  tentang kekurangan saya sebagai orang Sunda cukup dalam hati saja. Nanti jadi pertunjukan atuh. Tak Berselang lama dari perjalanan ke Sukabumi itu, saya diberi kesempatan untuk mengelola sedikit sawah.
Benih Padi
Binih Pare Gede

Antara ngahuleng dan bagaimana saya harus bersikap saat itu. Saya termanggu di depan netbook. Berselancar mencari tahu mengenai Agribisnis. Serasa apa yang disampaikan Abah tempo lalu menjadi kenyataan. Bahwa pertemukan kami bukan kebetulan. Bahwa saya suatu saat akan bersinggungan dengan yang namanya sawah dan dunia seputar pertanian.  Jadi saya ngahuleng antara mencari tahu mengenai dunia pertanian dan mengingat-ingat lagi seluruh perkataan Abah yang sungguh sangat mengena.

Tantangan petani menurut saya bukan hanya sekadar menanam. Dunia tidak sepolos ketika bercocok tanam ditemukan. Saya mencoba menerima tantangan ini. Saya berselancar mencari komunitas atau apalah yang bisa saya jadikan  rujukan. Setiap kali berselancar Agribisnis UT ada pada pilihan teratas. Setelah menimang, dan bertanya sana-sini. Mendaftar lah saya pada last minute. Uyuhan pisan.
Begitulah sasakala saya mendaftar kuliah di UT program studi Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi (dulu FMIPA). Sekaligus untuk menjawab pertanyaan orang-orang mengenai alasan mengapa saya mengambil jurusan Agribisnis padahal teu nyambung antara pekerjaan yang saya lakoni sekarang maupun ilmu yang pernah saya dapatkan dulu.

CARA MENDAFTAR UT secara Daring (Online)

Saya mendaftar menggunakan Sistem Online. Di Bandung jika ingin mendaftar secara  offline bisa datang langsung ke Jalan Panyileukan No. 1. Sebelum bundaran Cibiru. Tak jauh dari jalan raya lokasinya. Tempatnya strategis. Banyak angkutan umum menuju kesana. Salah satunya Trans Metro Bandung. Pakai Trans Metro, menyusuri Jalan Soekarno – Hatta yang panjang itu. Dari Cibeureum sampai Cibiru hanya empat ribu rupiah saja.
Pendaftaran dibuka dua kali dalam setahun. Pada sekitar Juni – Juli atau Desember – Januari. Demi kepraktisan saya mendaftar secara online. Nanti setelah  mendaftar kita akan mendapat email verifikasi. Setelah melakukan verifikasi kita akan diberi waktu untuk melengkapi semua persyaratan yang diminta. Semua formulir yang dibutuhkan tinggal unduh, diisi lalu unggah. Persyaratan lainnya pun begitu, seperti KTP, ijazah yang telah dilegalisir. Semua scan lalu unggah. Cukup sederhana bukan?
Saya mengambil sistem SIPAS, perkuliahan dengan mata kuliah yang sudah dipaketkan. Jadi saya tidak perlu memikirkan mau mengambil mata kuliah apa. Sadaya-daya weh eta mah, sa-diaturna ku UT. Saya menyerahkan diri saja. Pertimbangan saya mengambil sistem SIPAS itu dikarenakan saya tidak mau ribet, demi kepraktisan saja (sekali lagi). Tentu ada plus dan minus mengambil sistem SIPAS ini. Jika kita mengambil sistem Non SIPAS, kita bisa mengatur mau mengambil mata kuliah apa saja. Agar tidak bentrok dengan kegiatan kita. Nah, berhubung saya itu kadang suka kebablasan, takut kelupaan. Atau bingung makanya saya ambil sistem SIPAS. Ruginya, saya tidak bisa memilih mata kuliah.
Password akun tentu harus dijaga kerahasiahannya. Hanya kita dan Tuhan yang tahu, secara kasarnya begitu. Di sana akan banyak data, salah satunya mata kuliah yang kita ambil, billing tagihan hingga nilai. Jadi jangan sampai lupa atau bocor.
Setelah kelengkapan pendaftaran selesai, berhubung saya daftar pada saat last minute, saya tidak menunggu lama. Saya mendapat SMS untuk hadir pada acara pengenalan. Bagi yang belum terbiasa kuliah jarak jauh ada sosialisasinya. Jadi tenang saja. Memang sepintas membuat kita ragu. Kuliah tapi tanpa ketemu dosen. Dosennya siapa? Di mana? Kuliahnya ngapain saja??
Don’t worry semua bisa diatasi. UT sudah terakreditasi dan tertelusur.
Website pendaftaran silahkan klik sia.ut.ac.id


PERKULIAHAN - TUTON

Perkuliahan atau TUTON alias Tutorial Online, diperoleh setelah kita fix terdaftar sebagai mahasiswa. Sudah selesai lengkap administrasi dari persyaratan hingga pembayaran. Kita harus aktivasi TUTON melalui halamam elearning.ut.ac.id. Di sini kita mendapat akun dan akan berjumpa dengan mahasiswa UT dari seluruh Indonesia. Waktu itu saya berdelapan tetapi tak satu pun teman satu angkatan berada dalam kelompok TUTON yang sama. Jadi dosen-dosen pembimbingnya banyak ternyata. Setiap minggu kita akan diberikan materi sesuai modul. Terkadang ada tugas, tetapi lebih sering diskusi. Diusahakan kita harus aktif. Sayangnya server UT di weekend sering kali kolaps. Mungkin banyak yang akses. Bukan kita bermaksud malas, menunda ke weekend. Tetapi banyak mahasiswa UT yang bekerja jadi wajar jika pada saat weekend traffic pasti meningkat. Bagi saya sendiri, biasanya pada hari Senin ketika diskusi dimulai. Saya akan membaca lalu mencari referensi. Baru pada weekend saya akan mengunggah argumen atau tugas. Semoga pihak UT di masa mendatang  sudah memberikan fasilitas lebih baik mengenai ini. Mengingat UT yang mengukuhkan sebagai universitas yang memberikan layanan pedidikan jarak jauh yang terpercaya, handal dan dapat diharapkan.

Bagi yang meremehkan kuliah di UT. Well, lemme tell you.
Here some facts about UT
1.  Jika punya kebiasaan copas, dijamin akan riweuh. Di UT cukup selektif. Pastikan tulis narasumbernya, jika mengutip. Tapi lebih baik menulis sesuai pemahaman sendiri.
2.   Mendapat nilai sesuai dengan kelayakan memang butuh usaha. Bagi sebagian orang ada yang menyebutkan mendapat  nilai B atau A di UT itu butuh usaha yang cukup lumayan. Tak bisa mendelagasikan tugas, Karena kita sibuk bekerja, kita sewa asisten. Da jarak jauh ieuh. Tetap gak bisa.
3.  Tatap muka dengan dosen. Masih bisa kok, difasilitasi oleh UT dengan syarat dan ketentuan tentunya. 
4.  Belajar berkelompok. Mentang-mentang jarak-jauh, tidak saling kenal. Enggak juga, sekarang difasilitasi dengan grup whatsapp. Jadi tetap bisa saling berinteraksi.
5.    Ketemu teman-teman pas ujian. Ujian sebagai ajang kopdar. Biasanya ujian dilaksanakan di sekolah negeri. Sesuai dengan lokasi.
6.      Untuk mata kuliah yang berpraktikum UT bekerja sama dengan lembaga yang kompeten.
7.      Dan masih banyak surprise lainnya.

BEA SISWA

Di semester empat, saya terpilih mendapat kesempatan beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik). Proses mendapat beasiswa ini, saya mendapat email pemberitahuan. Dari email tersebut ada link, di mana dalam link tersebut ada persyaratan yang harus kita penuhi. Mirip seperti ketika awal pendaftaran secara daring.  Formulir dapat kita unduh dan diunggah kembali pada tempat yang disediakan. Bagi penerima beasiswa akan ada sosialisasi tersendiri.  Ya, tak mengapa. Sebagai seseorang yang mempunyai jiwa sosialita mah tidak keberatan sering-sering bersosialisasi (sedikit riya, banyak pamernya). Syarat utama beasiswa adalah nilai IPK minimal 3. Jadi so, teman-teman yang berkuliah di UT dan ingin mendapatkan beasiswa, jaga agar dalam posisi aman. IPK di-keep minimal di 3 koma sekian. Jika nilai-nilai kita sudah sesuai persyaratan jangan khawatir tidak akan kebagian beasiswa. Pihak UT pasti akan menghubungi.
Selain beasiswa PPA ada beasiswa lainnya, seperti bidik misi dan BAWAKU dari kota Bandung. Khusus bagi yang berdomisili di kota Bandung. Dibuktikan dengan kartu keluarga dan KTP. 
Beasiswa BAWAKU terdiri dari dua kategori. Untuk jalur tidak mampu dan prestasi. Seluruh persyaratan bagi yang mengambil jalur prestasi dimasukan ke map biru. Beasiswa BAWAKU pengumpulan berkas tidak secara online melainkan dikumpulkan langsung ke Panyileukan No. 1. Baik jalur prestasi maupun tidak mampu, dalam proses pencairan tetap harus melampirkan SKTM (surat keterangan tidak mampu).
Ketentuan lainnya adalah tidak boleh double mengambil beasiswa. Jangan kemaruk. Dibuktikan dengan surat pernyataan tidak sedang mengambil beasiswa dari lembaga manapun.

BIAYA-BIAYA
  •  Biaya 1 semester Rp1.300.000, - (mahasiswa SIPAS, non pendas) sudah termasuk modul.
  •  Kuota internet. Saya menggunakan dua provider. Merah dan kuning. In case salah satu ada yang gangguan. Besaran Rupiahnya tinggal dikalkulasi sendiri sesuai kebutuhan. Karena pada prakteknya akan sering browsing untuk mencari referensi.
  •  Biaya untuk mata kuliah yang berpraktikum


Selain menyediakan layanan pendidikan jenjang S1 dan diploma, UT menyediakan layanan magister dan kemarin yang saya lihat dari media sosial UT sudah ada program Doktoral. Bagi yang berminat melanjutkan studi dan ingin fleksibel dalam waktu boleh dicoba pakai jalur UT. Universitas Negeri lho. Biaya terjangkau. Jurusan apa saja yang ada di UT? Bisa mampir langsung ke ut.ac.id




8 komentar:

  1. Wah semangat ya Teh semoga lancar kalo saya udah males s2, mau nyemangatin Suami aja biar Suami yang S2 heheh

    BalasHapus
  2. Justru sy merasa kagum sm emak2 yg kuliah lagi, kuliah di UT itu lebih banyak ragam orang dan rentang usianya. Jadi makin memperluas jaringan. Wah bagus jadi copas copas itu ketauan ya teh. Jadi inget temen saya dimintai ibunya yg kuliah di UT 🙂

    BalasHapus
  3. Wah informatif pisan
    Sukses ya say

    BalasHapus
  4. Teteh, mengingatkan ku sama impian yg tertunda. 😍

    BalasHapus
  5. semangat mbak untuk kuliahnya. Belajar bagiku tak mengenal batas usia, setiap hari juga belajar kan ya mbak? heheheh

    BalasHapus
  6. Lah, keinginan untuk kuliah di UT kok muncul lagi setelah baca tulisan ini. Keren, Teh. Semangat terus <3

    BalasHapus
  7. Aku mah tahu banget kualitas UT dan memang ga seperti yang dibayangkan orang. Selamat ya, Teh. Salut sama perjuangan kuliahnya :)

    BalasHapus
  8. Perjuangannya yang luar biasa, masih uyuhan ya Teh, hihii.
    Alhamdulillah ..

    Tapi bener banget pikiranku Agribisnis, seputar bertani, bercocpk tanam padahal mahndr sisi lainnya ya.
    Pokoke sukses yaaa

    BalasHapus

Feel Free untuk menaruh komentar. Pasti akan dikunjungi balik.
Oh ya, link hidup sebaiknya jangan yaaa... nanti saya matiiin lhooo.