Minggu, 10 Maret 2019

Tantangan Berkebun Di Perkotaan



Tahun 2019, saya memutuskan untuk berkebun dengan serius. Perlu saya garis bawahi kata serius ini. Serius. Gak main-main.  Saya ingin membuat satu sistem berkebun yang berkesinambungan. Selaras dengan alam serta mendukung misi pemerintah. Menciptakan ketahanan pangan. Membentuk masyarakat yang berdaya guna tingkat dewa. Halaaaaah, panjang amat  dan agak-agak halu. Any way sebab mengapa saya berkebun bisa melipir ke sini.
Setidaknya ada dua tantangan yang harus dihadapi ketika memulai berkebun di perkotaan. Tantangan yang bersifat minor dan mayor. Apa saja tantangannya itu? Hayuuuk kita preteli.


Keterbatasan lahan saya kategorikan sebagai tantangan bersifat minor. Kesulitan lahan adalah hal lumrah. Pepohonan bersaing ketat dengan bangunan. Tapi hal ini tidak perlu menjadi masalah besar. That’s why saya masukan tantangan minor. Banyak cara untuk bercocok tanam. Misalnya dengan memanfaatkan kemasan bekas. Seperti kantong bekas minyak goreng, ember bekas cat. Saya kemarin menanam bayam menggunakan rak penyimpanan yang sudah rusak.
Urban Farming
Bayam Merah


Tanahnya dari mana?
That’s good question. Jika ada yang berkenan, penduduk kota yang baik hatinya. Biasanya mereka tidak keberatan untuk  dimintai se-ember dua ember mah. Asal jangan salah pakai satuan. Pakai satuan meter apalagi hektar. Nah, hal-hal begini yang dapat menimbulkan konflik dan berujung saling meng-embargo. Kalau memang segan minta, karena tetangga adalah horang kaya. Dan kita gak dikenali juga walau tinggal disebelah. Mending beli saja ke tukang tanaman hias. Biasanya mereka menyediakan. Kalau di Bandung paling banyak dijual tanah Lembang. Itu pooool bagusnya.
Sebelum ditanami, tanah sebagai media tanam dipersiapkan dulu. Biasanya saya mencampur dengan kompos. Komposnya sampah organik sisa makanan. 70% sampah adalah sampah organik. Lumayan kan daripada jadi sampah lebih baik jadi media tanam. Jadi mulai kendalikan sampah. Sampah organik jadikan kompos. 
Urban Farming
Bayam Batik di Pipa Paralon Bekas

Alternatif lain adalah bercocok tanam dengan sistem hidroponik. Bertani dengan cara ini sedang menjadi favorit nih. Karena tidak harus belepotan dengan tanah. Komunitasnya juga banyak. Selain berkebun, kita berjejaring. Saling follow IG. Asyiiiiik. Tinggal ceki-ceki sama Mang Gugel saja.


Tantangan berikutnya adalah tantangan yang bersifat mayor. Diantaranya menghadapi serangan hama, tikus dan binatang piaraan. Perlu banyak-banyak sabar. Persiapan lahir dan bathin paripurna. Masalahnya mereka akan menyerang setiap saat. Ngadodoho (-mengintai) di saat kita lengah. Pagi hari kita puji-puji, esok tanaman terkulai tak berdaya.
Untuk pengendalian hama saya dapat rujukan untuk menggunakan bumbu dapur. Seperti lengkuas, bawang putih, merica atau kunyit. Membuatnya mirip dengan membuat infuse water. Bahan tadi direndam. Sebelum direndam ditumbuk dulu, kecuali merica. Lalu disaring, agar tidak merusak botol semprotnya. Penyemprotan dilakukan sore hari karena biasanya, mereka beraksi pada malam hari.

Cara mudah mengusir tikus, saya menggunakan buah cangkudu (-mengkudu). Bau mengkudu yang khas ditakuti oleh tikus (dan saya juga sih). Saya gak membuat jebakan atau menyebarkan racun tikus. Jebakan tikus sebetulnya membuat saya jerit-jerit. Lihat penampakan tikus kota yang besarnya bersaing dengan kucing angora. Nah, kalau pun diracun. Biasanya jenazah tikus akan berada di titik point yang tidak disangka-sangka. Sulit dijangkau, nanti baunya malah mengganggu. Amannya area tanam bersih dan usir dengan bau mengkudu.

Binatang piaraan apapun jenisnya. Berhubung di kota itu, lahan hijau terbuka sangat jarang. Ketika ada sedikit tanaman, itu spot langsung dipakai buat ngaso. Kebanyakannya mah kucing. Lihat tanah sedikit, langsung ngincer dipakai buat pup. Kalau tidak dia akan bergumul diatas tanaman yang dia pikir rumput. Nah, soal binatang piaraan ini kalau tidak kuat-kuat iman bisa menimbulkan konflik. Misalnya. Ini hanya misalnya lho yah….
Ada tetangga yang miara kucing, tapi tidak tertib pup dan kucing piaraannya suka kelayapan. Karena space di rumah tuannya kurang luas mungkin. Akhirnya dia menjajah ke rumah sebelah. Which area berkebun kita. Kita usir kasar akan menimbulkan perpecahan. Kalau didiamkan akan keenakan.

T1: Ngapain sih, pakai usir-usir segala. Harga kucing ini lebih mahal dari kangkung situ!
Bi: blebep blelep blepep

Itu baru dihadapkan pada binatang piaraan. Well, dari pada diusir. Dan membuat murka pemiliknya. Lebih baik digendong dan berikan langsung. Hindari perpecahan. Sabaaaaaaaaaaaaarrrr

X1: Bi, ngapain sih, kamu berkebun? Repot-repot amat. Kangkung tinggal beli. Tiga rebu juga sudah dapet.
Bi: Eh,iya siiih. Tiga rebu gak perlu nunggu tiga puluh hari lagi yaaaa…

Saya langsung lemparin benih-benih kangkung.
Hihihihihi…. Selain gangguan binatang piaraan yang membutuhkan skill public relation yang baik. Pertanyaan-pertanyaan bernada satir akan membutuhkan kecerdasaan emotional tingkat tinggi. Dan ilmu pengendali perasaan level atas. Salah-salah seperti saya. Benih kangkung saya lempar-lempar ke tanah. Malamnya kena hujan, dua hari kemudian sprout. Nah, melihat kangkung berkecambah dan tumbuh mengingatkan saya untuk tidak boleh menyerah begitu saja.

Setelah beberapa bulan menjadi petani, justru saya merasa ilmu kimia yang saya pelajari selama 4 tahun sangat terpakai. Saya belajar tentang nutrisi yang pas, menyemai, membaca alam sekitar dan banyak lagi. Intinya belajar sabar juga. Hahahaha.
Jadi ketika ada yang julid, karena kita berkebun. Kita bisa mengacuhkan atau memberikan jawaban yang sangat ilmiah.

Y1: Bi, buat apa sih berkebun?Bi: Sebagai persiapan jika Decepticon berhasil menguasai bumi. Dan Autobot sudah gak berdaya melawannya. Badai elektromagnetik dari matahari menyerang. Listrik mati, internet mati. Setidaknya kami masih bisa survive. Makan oseng kangkung.Y1, X1, T1: ##@@@*@ZZZZ@@@*&&***!!!

25 komentar:

  1. Udah nyoba pake hydroponic teh? Biar bisa digantung kaya status si dia ehh

    BalasHapus
  2. Pengen nyoba berkebun juga ih. Terakhir pernah nanam pohon cabe, eh mati. Haha gak bakat akutuuu

    BalasHapus
  3. Sekarang saya suka berkebun dengan memanfaatkan plastik sehnigga dapat mengurangi pemakaian plasti untuk jadi media tanam.

    salam,
    kidalnarsis.com

    BalasHapus
  4. Bagooooos. Aku suka alasanmu berkebun. Mari kita siap-siap sebelum alien menyerang! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alasan utama berkebun adalah itu. Takut Megatron keburu turun dari bulan

      Hapus
  5. kalau aku pake wadah-wadah plastik bekas sebagai media tanam, lumayan sekalian ngurangin sampah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemasan bekas minyak goreng. Lumayan bagus untuk menyemai

      Hapus
  6. Jadi pengen belajar berkebun sama teh yeni. Kalo panen kangkung boleh dong saya diundang hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuuu teh.... Hasil kangkung batch 1, 2 dan 3 sudah habis. Kita nantikan kangkung batch berikutnya. heu heu heu

      Hapus
  7. Aku pengen belahar hidroponik tapi masih ngumpulin niat,, haa

    BalasHapus
  8. lahan sempit harus dimanfaatkan maksimal ya mbak

    BalasHapus
  9. Enak yang tinggal di Desa za.... Kalaau berkebun bebas. Walaupun persoalan hama dan pengganggu sama namun setidaknya lahannya cukup luas

    BalasHapus
  10. Ngakak bagian jenazah tikus teh :D aku baru tahu ternyata pake menkudu yah, di halaman belakang rumah juga lumayan ada space kosong buat menanam sayangnya aku masih sibuk sama bocil-bocil yang tangannya masyaAlloh kreatif semuahhhh ga kebayang tanaman belakang rumah bisa jadi obyek kreatif mereka tau-tau pas pulang kantor yang tertinggal cuman batang :D

    tapi emang aku punya niatan berkebun, bodo nanan sama yg nyinyir eh mending beli aja 3rebu seikat wkwk sok kesel mun ada yg gitu teh :D

    BalasHapus
  11. Gardening is awesome ya Teh saya juga berkebun sederhana di atap rumah hehe

    BalasHapus
  12. Rajin banget ya mba. apalagi niat berkebun tapi malah ada aja yang protes ya. marah salah, diem salah. kalau hidup bertetangga ya begitu ya. tapi lanjutin aja hobby ya biar bumi kita banyak oksigen bukan bau pup kucing hehe

    BalasHapus
  13. wah bagus ya, bisa juga pakai sisitim vertikal shg gak makan tempat

    BalasHapus
  14. Saya juga merasakan manfaat dari ibu mertua yang suka berkebun. Seledri, bawang daun, cengek, daun jeruk tinggal petik semua. Ga usah beli. Lebih hemat. Pernah ibu mertua nitip tolong siramin tanamanny dan saya lupa. Hheu

    BalasHapus
  15. Aku tanahh beli kalau mau berkebun hihi nasiiib

    BalasHapus
  16. Berkebun memang banyak tantangannya yah Teh, taman aku di depan rumah kecil banget sih. Cuma sanggup tanam pohon mangga aja sama bunga2 dikit. Itu pun pohon mangganya jarang banget berbuah, sepertinya kurang asupan kasih sayang dariku hehe

    BalasHapus
  17. Inget berkebun inget Evi jadinya. Dia pengin banget serius berkebun sementara saya ogah-ogahan. Nggak boleh gitu ya, Teh. Mesti mau berkebun apalagi di kota butuh banget oksigen.

    BalasHapus
  18. Baca ini kujadi ingat tanaman-tanamanku yang waktunya ganti pot. Hihihi. Nagih sih berkebun, tuh. Aku juga suka.

    BalasHapus

Feel Free untuk menaruh komentar. Pasti akan dikunjungi balik.
Oh ya, link hidup sebaiknya jangan yaaa... nanti saya matiiin lhooo.