Selasa, 22 Januari 2019

2019 tentang Harapan


Seakan sudah menjadi suratan pada perjalanan saat itu, tetesan hujan memaksa kami untuk berteduh di warung mie. Tadinya saya mau bilang kejadian berteduh di warung mie adalah kebetulan belaka, tetapi hei! Hei! Hei! Everything happen for a reason.


Warung itu tidak seperti warung makan biasanya. Tapi hanya beranda sebuah rumah bergaya jadul. Pada teras digelar tungku untuk memasak mie, lengkap dengan etalase memajang bahan baku. Halaman rumah itu cukup luas. Ditanami banyak tanaman. Hujan memandikan mereka. Tanaman-tanaman itu. Daunnya terlihat segar memanjakan mata. Di depan rumah terdapat pohon jambu batu yang sedang berbuat lebat. Buah jambu yang sudah sangat matang berserakan di tanah. Ada pula yang jatuh berguguran karena hujan. Buah yang pecah mengeluarkan harum yang khas. Bijinya kemerahan. Teman saya itu sangat senang melihat pohon jambu yang sedang berbuah. Jika hari tidak hujan, mungkin dia akan memanjat dan memetik jambu-jambu itu.
Pemilik warung menangkap keinginan teman saya itu. Terlihat dari wajahnya. Mupeng tiada tara. Atas kebaikan pemilik warung, teman saya mengantongi satu kresek jambu batu tanpa susah payah majat. Teman saya ini, girang sekali. Sebagai penadah barang gratisan, mana mungkin ditolak.
Situ Cisanti
Waktu hujan. Saat itu. di warung mie.

Kami disodori teh panas. Dan seperti biasanya, karena tubuh saya suka merespon negatif dengan kandungan caffein, saya meminta ditukar dengan air panas saja.

Warung itu dipunyai oleh dua orang berusia senja. Taksiran saya, mereka yang menghabiskan masa pensiun. Ketika suaminya yang memberikan kami minum. Sang istri menyiapkan pesanan kami. Saat itu hanya saya dan teman saya yang berteduh. Ketika mereka berjibaku melayani kami, pikiran saya pun larut dalam khayal.

Alangkah menyenangkan jika suatu saat kelak, kami bisa menghabiskan masa tua dengan tentram. Rumah yang penuh dengan kebun sayuran dan buah-buahan. Lalu membuka kedai mie ayam. Kedai yang akan kami kelola bersama untuk mengisi masa tua kami. Menopang kehidupan kami di masa tua, tapi tetap bisa berinteraksi dengan orang luar. Sambil menunggu kedatangan para anak, cucu, mantu. Hahahaha... Kejauhan lha yaaaaah. Isssh, bae atuh da namanya juga ngalamun. Ngalamun adalah fakta yang tertunda.
*saya bikin bold pas bagian mimpinya.
Saat itu, anak pemilik warung mie memang datang. Saya juga ikut merasakan kebahagiaan mereka. Setelah melayani kami. Mereka seru-seruan bercengkrama. Keseruan dan kebahagian mereka membuat saya termotivasi. Terinspirasi meureunnya. Ah, pokokna mah kitu weh. Asa bersemangat harita, menatap masa depan teh. Kelak kehidupan saya akan berwujud kira-kira seperti apa yang saya lihat di warung mie saat itu.


2019.  Harapan, khayalan, mimpi dan langkah mewujudkannya.

Tak berselang lama dari perjalanan itu, saya mengalami masa-masa sulit. Untuk melanjutkan hidup rasanya malas. Kondisinya jauuuh pisan. Dulu mah harapan. Menjadi moodbooster semangat tiap pagi. Eh, ternyata hanya khalayalan belaka. Semu deuih! Dulu mah membuat semangat untuk berkarya. Menatap masa depan. Nyata-nyata mah pembodohan.  Habis manis sepah dibuang tea. Seperti makan tebu. Dodol pisan.
Masa sulit itu membuat saya malas bergerak. Untuk apa saya bercita-cita. Untuk apa saya berharap. Toh, hasilnya nyatanya sudah nampak. Sebuah kegagalan. Perlu sekian waktu saya belajar untuk menyembuhkan diri. Butuh satu tahun lebih saya untuk curhat kejadian sulit di blog. 
Saya juga tidak memposisikan, bahwa saya adalah perempuan strong. Seperti yang tampak. Saya adalah serapuh-rapuhnya manusia. Mengapa saya harus berpura-pura kuat. Berpura-pura itu capek. Butuh energi. Munafik lah, kalau menganggap saat itu baik-baik saja. Saya tidak baik-baik saja.
Saya marah pada alam semesta. Mengapa memberikan harapan palsu pada saya? Mengapa tidak sesuai janji-Nya. Saya merasa dikhianati. Berkat ‘berharap’ saya masuk kedalam kelompok pecundang.

Dalam masa sulit saya bertanya-tanya. Berbagai pertanyaan yang mendorong saya malah menjadi kufur nikmat. Sejuta kemarahan karena saya merasa dibohongi. Dipecundangi oleh kehidupan. Mau dibagaimanakan hidup saya yang pecundang ini?
                    
Tiba-tiba saya teringat lagi dengan kejadian di kala hujan itu. Mengingatnya membuat saya tentram. Rumah mungil, kebun sayuran, rintik hujan. Mungkin saya menikmatinya sambil membuat tulisan. Betapa menyenangkan khayalan saya itu. Saya memang bukan pemenang. Mungkin semesta bersekongkol dan menjerumuskan saya sebagai pecundang. Tetapi saya harus menyelesaikan sampai ‘finish’ kehidupan saya ini. Every life has a purpose.
Tuhan tidak menciptakan saya tanpa tujuan. Saya tidak tahu tujuan apa dibalik semua ini.
Mie Ayam
Tentu ada alasan lain dari penciptaan mie ayam. Selain mengenyangkan.


Sambil membersihkan rumah, saya bertekad untuk memulai mengambil langkah untuk mewujudkannya. Saya menyusun siasat dalam benak. Jika toh, hasilnya kegagalan pula. Setidaknya saya sudah berusaha. Tiada ruginya. Tuhan tahu mana yang haq dan yang bathil. Mana yang sudah diperjuangkan dan menjadi milik saya atau bukan.  
Saya jadi teringat dengan intan permata. Semakin diasah, semakin berkilau dia. Mungkin ide mempunyai kebun sayuran, buah-buahan, sebuah rumah mungil dan kedai mie. Menunggu untuk diasah. Agar mengkilau. Saya tidak perlu membuktikan pada orang-orang yang membuat saya terluka.

Saya menyingkirkan label-label yang pernah saya rintis. Usaha seputaran jahit-menjahit, konveksi, craft, tas wanita. Saya singkirkan. #bagtag, #tantrum, #magenta, #violet nama-nama yang saya pakai untuk menandai jenis-jenis barang yang saya buat. Saya simpan dulu. Bahkan 'princess bee', label pakaian untuk anak kecil. Produk baru yang akan segera saya launching. Terpaksa saya masukan ke dalam kotak. Saya mundur selangkah dari putaran itu. Padahal label-nya baru selesai. Dicetak dari Jogya.
Jika saya jalankan, saya khawatir saya tidak bisa fokus. Saya perlu waktu belajar dan beradaptasi dengan mimpi yang satu ini. Suatu saat mungkin mereka akan bangkit lagi.

And there’s go. Selangkah demi selangkah saya mencoba mewujudkan mimpi-mimpi itu. Meskipun saya harus merangkak belajar dari nol. Belajar di luar hal kebiasaan saya. Menanggalkan zona nyaman saya. Terjun langsung memahami tanaman.Ya, sekarang saya belajar menanam. Dengan media hidroponik. Mengapa hidroponik? Karena untuk menyiasati lahan.
Menamam dengan cinta. Menyaksikan mereka tumbuh dan memberikan kedamaian. Berkali-kali saya menyemai dan mengalami kegagalan. Untungnya keluarga mendukung keputusan saya ini.
bioeti hidroponik
Belajar Hidroponik


Mengapa saya menuliskan mimpi saya di sini?

Menurut dunia percenahan, yang sering saya dapatkan. Salah satunya ketika dijebak pada seminar MLM. Bahwasanya mimpi itu harus ditulis. Kalau perlu gunting fotonya dan tempelkan. Mau ditempel di buku diary. Di tembok. Di mana weh, kira-kirana bisa terlihat. Nanti teh, alam bawah sadar kita bekerja. Ujug-ujug bisa kebeli kapal pesiar weh.
Komo deui mun saya tulis di blog. Biarkan saja tulisan ini menemui takdir pembacanya. Lalu meng-aamiin-kan. Semoga saja impian saya ini bisa segera terwujud. 
Aamiin.

Pendopo Kota Bandung
Pendopo Kota Bandung

Masih banyak yang harus saya lakukan. Bahu membahu sama alam bawah sadar, untuk mewujudkan impian ini.
Belajar digital marketing terutama untuk dunia pertanian. Membuat akun instagram agar semua orang gemar makan sayur and than… mengurus kedai mie dan memperluas kebun sayuran. Yaaa… karena bahan baku mie akan diambil dari kebun ini. Kira-kira itu gambaran masa depan saya. Masih random langkah-langkah apa saja yang harus saya lakukan.Tapi saya coba susun, agar nanti dapat bermanfaat bukan untuk saya saja.

Jadi peer saya masih banyak lagi, masih banyak lagi yang harus saya pelajari…

Eugh ah, tulisan ini jadi tulisan sentimental pisan. Setelah setahun tidak menulis di sini. Sekalina nulis, jebul yang emosional begini.

PS: tanggal 20 Januari 2019, saya melewati warung mie itu. Letaknya di Bandung selatan. Saat itu tutup. Saya tidak tahu apakah tutup untuk selamanya atau pemiliknya sedang ada keperluan. Anyway terima kasih sudah menginspirasi saya tentang kebahagiaan.

11 komentar:

  1. Terus berjuang dan janagn patah semangat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir dan menguatkan

      Hapus
  2. Balasan
    1. Terima kasih sudahh membaca keluh kesah hidup saya

      Hapus
  3. Terima kasih informasinya, sangat membantu :)

    BalasHapus
  4. Semoga harapannya dapat segera terwujud ya kak amin hehe

    BalasHapus
  5. Tetap semangat kak, Fighting :D

    BalasHapus
  6. Biarkan tulisan menemukan pembacanya. Wuih keren. Makanya mpo baca disini.

    Hidroponik memerlukan telaten dan tidak gampang menyerah

    BalasHapus

Feel Free untuk menaruh komentar. Pasti akan dikunjungi balik.
Oh ya, link hidup sebaiknya jangan yaaa... nanti saya matiiin lhooo.