Minggu, 28 Januari 2018

Panglima Tempur



pixibay
Agak sedikit ‘canggung’ ketika berada pada situasi lautan anak kecil. Sungguh saya sangat salut kepada pengajar di PAUD, TK atau kelas satu di sekolah dasar. Mereka pasti stok sabarnya sangat-sangat tak terhingga. Tidak seperti saya. Ketika melihat anak kecil blingsatan, secepat kilat berulah. Aduuuuh, ini dada sudah terasa penuh gimana gitu….

Hari Minggu ini saya dipaksa oleh Ibang untuk hadir dalam pesta ulang tahun Kirana. Kami memanggilnya Kira. Bulan ini tepat lima tahun usianya. Anak Ibang yang pertama.
“Ini perintah Fatma Bi,...” kata Ibang. Yang artinya mau tidak mau, bisa tidak bisa. Saya HARUS hadir. Saya mencoba negosiasi dulu. Pertama saya diperbolehkan membawa teman. Kedua Erik juga harus hadir.

“Dia (maksudnya Erik) juga diundang,” jawab Ibang atas persyaratan saya itu.
“Iya! Tapi pastikan hadir. Saya gak mau bego sendirian.”
Ibang berada dibawah dua ancaman, yang membuat dia harus bekerja keras. Memastikan saya hadir atas permintaan Fatma. Memastikan Erik hadir atas permintaan saya.

Sekilas kesemerawutan persahabatan kami dibisa ditemukan di sini

Karena Manusia di bumi sedang banyak mengadakan resepsi. Hujan sepertinya akan diundur sehabis bada dhuhur. Mungkin rintiknya akan turun menjelang ashar. Lewat perantara pawang, hujan jadi harus berkompromi. Pesta Kira juga dimulai jam sepuluh dan akan berakhir jam dua belas. Dengan alasan takut keburu hujan.

Pestanya diadakan di sebuah restoran cepat saji. Seperti para selebritis di akun gossip, pesta ulang tahun Kira tidak kalah meriah. Meskipun kami tidak diwajibkan menggunakan dress code tertentu. Just Casual, sopan dan nyaman saja.

Ada badut, ada sulap, ada prosotan, ada banyak baby sitter yang diajak serta. Mereka mengejar-ngejar anak-anak asuhnya. Ada para Mommy yang tengah bertukar informasi. Ada Erik, ada Ibang dan para daddy yang ‘terjebak’. Ada Lolita yang dengan senang hati mengantar saya, karena dia suka anak-anak. Beda banget dengan saya yang lebih suka anak-anak agak gede… ☺

Sebelum acara tiup Lilin, Ibang melipir mengucapkan terima kasih karena saya mau datang. Kami bertiga, Ibang, Erik dan saya adalah contoh persahabatan yang dibentuk oleh letak geografis dan diuji dengan adanya Pilkada (pilpres). Oleh sebab itu, saya meminta Ibang memastikan kehadiran Erik. Urusan Pilkada membuat pakusut. Dan selama pesta berlangsung tidak boleh ada omong-omong Pilkada maupun pilpres. Bahkan curhat soal BPJS pun dilarang.  Soal tenaga asing, pemain asing di klub PERSIB. Dilarang keras!!

Demi terciptanya perdamaian dunia.

“Makasih Bi, sudah mau datang.” Ibang tahu, menghadapi anak kecil adalah perjuangan bagi saya. Kehadiran saya juga berarti Ibang sudah menjalankan perintah Fatma. 

“Kira bentar lagi tujuh belas tahun Bang,” kata saya.
“Masih lama atuh..”
“Dua belas tahun mah, bukan waktu yang lama atuh. Nyicil rumah saja lima belas tahun. Gak berasa kan?”
Ibang terdiam lalu menghitung-hitung.
“Terus nanti teh yaaaa… tiba-tiba ada anak cowok ngejemput Kira.” Kata saya lagi.
“Om, saya Dilan mau ngajak Kira jalan-jalan.” Saya menirukan jadi anak Gank motor yang bernama Dilan (yang suka membuat kleper-kleper kaum perempuan).  “Anak Gank motor Bang, pangkatna teh Panglima tempur. Bawa samurai dipunggungnya. Halaaah tah, kumaha Ibang???” saya menakut-nakuti Ibang yang sekarang mukanya mulai kelihatan pucat. Sesekali dia melirik Kira yang tengah asyik berlari-lari mengelilingi prosotan.
“Issss, ulah atuh. Tong ngado’akeun nu kitu…” *
“Terus yaaaa, itu anak teh hobinya ngumpulin nomor telpon cewek. Termasuk para baby sitter.” Saya menyebutkan salah dua kelakuan Ibang yang suka rada-rada abnormal kalau ketemu perempuan cantik.

Mukanya makin panik.

Acara tiup lilin segera dimulai, Ibang langsung memeluk Kira yang melintas di depannya. Dia mendekapnya. Entah do’a apa yang dia ucapkan. Mungkin, “Ya Allah, jauhkan anak hamba dari gangguan gank motor dan para begundal yang terkutuk.”
rcwilley




Issss, ulah atuh. Tong ngado’akeun nu kitu… = Isss, jangan. Jangan mendo'akan seperti itu.

2 komentar:

  1. Memang mengahadapi anak kecil itu tidak mudah yah. Harus butuh perjuangan yang hebat

    BalasHapus

Feel Free untuk menaruh komentar. Pasti akan dikunjungi balik.
Oh ya, link hidup sebaiknya jangan yaaa... nanti saya matiiin lhooo.