Sabtu, 30 Desember 2017

Belum Tentu

Selain difteri, wabah yang tak kalah mengerikan adalah wabah pelakor. Perasaan akhir-akhir ini pelakor semakin merajalele. Menyerang halaman media sosial saya. Seakan tidak memberikan ruang kepada saya untuk berpaling. Berita mengenai pelakor sebetulnya jenis berita yang tidak ingin saya baca. Tetapi apa daya, sekarang cuma ada dua tipe berita yang sedang nge-hit. Korupsi dan pelakor. Entah kedua jenis berita ini saling berkorelasi atau tidak? Pada kenyataannya, dua tipe berita ini membanjiri lini masa medsos saya. Eh, entah kalau lini masa anda-anda sekalian mah. Mungkin saya kebanyakan follow akun gosssip.☻ 

Semakin miris, ketika membaca curahan hati pelakor muda belia yang masih SMA. Waktu itu saya berharap itu sebuah meme, ternyata bukan. Dalam postingannya dia tidak menyesal dikeluarkan dari sekolah, malah merasa menang karena laki-laki itu tetap bersamanya.
Mungkin remaja belia ini menganggap hanya sebuah kompetisi. Saya malah jadi ingat obrolan dengan Bi Wati. Siapa Bi Wati bisa diintip di sini.

Dengan profesi Mang Hendar seperti demikian, tidak menutup kemungkinan hal-hal seperti itu terjadi.

“Apakah Bi Wati tidak hariwang (khawatir)?” Tanya saya.


“Pasti aya (ada),” jawabnya kalem. Seperti biasa. “Tapi milik mah moal katukeurMun teu sama Bibi meureun Mang Hendar moal bisa siga ayeuna. Nya meureun Alloh oge ngarizkian ka Bibi.  (Kalau tidak sama Bibi, mungkin Mang Hendar tidak akan seperti sekarang. Tuhan juga memberi Rezeki pada Bibi).
pikiran rakyat Jelita
Rambu-Rambu

Boleh jadi merasa menang karena mendapatkan pasangan orang lain. Tetapi pasangan yang ditinggalkan adalah pemenang karena diberi kesempatan lepas dari bedebah dan mendapatkan jodoh sebenarnya. Rezeki dan kebahagian yang hakiki. Kira-kira inti obrolan dengan Bi Wati seperti itu. Obrolan yang diselingi dengan membahas tentang Hukum Newton dan efek Dalton.

Obrolan Bi Wati saya adopsi ketika Ibang suka iseng-iseng ngomong soal poligami.

“Kalau kamu mengganti Fatma, belum tentu kamu bisa tetap sukses seperti sekarang. Bisa aja nasib kamu jadi sial. Malah kamu gak bahagia.” saya mencoba mengajak Ibang Flash back pada zaman mereka masih tinggal dikontrakan. Mengingatkan perjuangan Fatma, mendampingi Ibang. Ketika Ibang masih bongkar pasang pekerjaan.  Ketika dia harus membiayai kuliah adik-adiknya selain keluarga kecilnya sendiri.

Rupanya cerita saya ‘menguliahi’ Ibang sampai juga pada Fatma. Entah siapa yang menyampaikannya. Menurut saya, Ibang tidak mungkin akan melapor pada Fatma kalau saya pernah menguliahi-nya. Tapi berkat itu, sikap Fatma jadi sedikit melunak pada saya. Walaupun tetap jaim juga sih.

Tetapi yang penting dunia amaaaaaaan.  

Tentang Fatma dan Ibang bisa dilihat di sini.  

3 komentar:

Feel Free untuk menaruh komentar. Pasti akan dikunjungi balik.
Oh ya, link hidup sebaiknya jangan yaaa... nanti saya matiiin lhooo.