Langsung ke konten utama

There Aint No Such Thing as a Free Lunch

Menyebutnya sebagai Bandar ayam memang bukan tanpa alasan. Beliau adalah salah seorang pengendali pasokan ayam di kota Bandung. Bisa jadi dia juga mampu mengendalikan harga ayam itu sendiri. Eh, kok, malah jadi su’udzon gini.
Kata dia, menjadi bandar ayam itu karena terpaksa. Terpaksa karena di kampung orang tua dan adik-adiknya butuh biaya. Terpaksa, karena di kampung mah sedikit lahan pekerjaan. Tidak ada pabrik, tidak ada gedung perkantoran. Tidak ada apa-apa kecuali ada lahan dan ayam. Terus, terpaksa karena dia gak punya keahlian yang mengagumkan. Padahal dalam ijazahnya tertulis dia lulusan SMK. SMK teknik mesin, jatuhnya malah ngurus ayam. Saya tanya pada dia soal keahlian mengagumkan itu.
“Itu lho yang seperti orang-orang sekarang. Ahli mengendalikan komputer. Bawa-bawa gadget kemana-mana. Pakai kemeja, dasi dan sepatu mengkilat.” Jawab dia setengah grogi.
“Tapi mending jadi bandar ayam lah, daripada menjadi bandar narkoba,” puji saya.
Eh, dia malah tersipu-sipu dengan pujian saya.
“Jadi bandar ayam lebih menguntungkan daripada jadi bandar narkoba. Secara Orang Indonesia itu sudah kecanduan ayam sangat. Tiada hari tanpa ayam. Bahkan pengguna narkoba pun pasti suka makan ayam. Tapi pemakan ayam belum tentu mau pakai narkoba.” Kata saya lagi.
“Ah, si teteh mah, bisa wae...” kata dia. Mukanya makin merah. Kalau sudah begini semakin bersemangat saya menggodanya. hahahaha...
Padahal tanpa dia sadari, menurut saya apa yang dia lakukan sangat mengagumkan. Di usia muda, dia sudah mandiri ( I know bukan hal yang amazing, di sinikan sudah banyak ya..). Omset penjualan ayam yang pat-pat gulipat, berlipat-lipat. Dengar-dengar dia juga punya usaha properti. Buka jasa menyediakan kakus di rest area,juga kost-an. Dia bilang juga terpaksa punya kost-an, soalnya kasihan kalau ada yang ke Bandung suka riweuh nyari tempat tinggal. Bahkan soal lahan dan ayam, saya kategorikan sebagai bagian dari Humblebrag alias merendah meningkatkan mutu. Lha, dia saja gadget-nya pake merk apple. Sudah gitu dia bilang buat main-main saja. kebayangkan kalau yang buat urusan serius dia pake gadget merk apa??
Nangka???! *bukaaan, kumaha kamu we-laaahhhh...
Intinya jangan meragukan kemampuan orang-orang yang tinggal kampung. Atau yang mengaku-ngaku diri sebagai pribadi kampungan. Kita bisa tercengang dibuatnya.
Parabola di Panjalu
Antena Parabola di Panjalu yang dijadikan jemuran (Foto Dokumentasi IG: abahgembol)


Banyak hal mengagumkan dari dia, diantaranya sang Bandar sering kali mengirimkan saya pisang buat pelengkap makan siang. Saya tahu, buah-buahan kesukaan ini tidak saya publish sembarangan soalnya suka jadi banyak misunderstanding gitu. Saya yakin, sang Bandar tahu hal ini berkat teman saya. Tapi gak apa-apa saya senang sekali dapat kiriman pisang. Apalagi dari kampung yang sengaja dibiakan tanpa campur tangan obat-obatan. 

Kemarin Sabtu, beberapa hari setelah hari raya, Sang Bandar kembali mulai beroperasi. Mengecek para nasabahnya sekalian silaturahmi. Kami bertemu di rumah teman saya yang membocorkan buah-buahan kesukaan saya itu (dengan begini si teman saya pun jadi kecipratan  oleh-oleh juga). 
Setelah berbasa-basi dan saya menikmati muka merah sang Bandar, lalu berhubung pada musim lebaran selalu ditanya-tanya oleh pertanyaan menakutan (you know what i mean. exactly!).
Sang Bandar pun tidak urung kena sydrome ini. Basa-basi berlanjut pada seputar obrolan kriteria pencarian pasangan. Jadi teringat kiriman pisang itu ternyata bukan hal gratis. Bukan tidak ada maksudnya. There aint no such thing as free lunch. Pasti ada sesuatu nyah.
there aint no such thing as free lunch


Tiba-tiba sang Bandar berkata begini dengan muka lemas, "... tapi teteh mah sepertinya gak mau diajak hidup susah. Hidup prihatin."

Saya tertegun. Lalu saya balik bertanya pada dia, "memang ada ya kang, perempuan yang mau diajak hidup susah. Hidup prihatin?"

Giliran dia yang sekarang kebingungan dengan pertanyaan balasan saya. Lah, memang betul juga kan......?
Kira-kira yang baca di sini terutama kaum perempuan, ada gak sih yang mau hidup prihatin atau hidup susah? takutnya saya saja pikirannya rada begini.
lunch


Komentar

Silahkan mampir

Perempuan belum menikah dilarang sakit Asam Lambung

Siang itu, saya datang ke pantry tetangga sambil meringis menahan sakit. Sejak Senin lalu, dokter memvonis saya dengan asam lambung berlebih. Dada rasanya terbakar, setiap menarik nafas. Sesak. Saya benar-benar kaget mengetahuinya. Komponen utama asam lambung yaitu asam chloride. Salah satu anggota golongan asam kuat. Perpaduan dengan senyawa ‘X’ akan menghasilkan sesuatu yang dahsyat. Satu larutan yang mampu merontokkan logam. Moal dibeja-an senyawa X itu apa, bisi diturutan. Coba-nya kalau bisa dikeluarkan si asam lambung dari perut saya. Lalu dijual. Akan menguntungkan meureun. Karena asam chloride ini banyak yang membutuhkan.

Delcont: Hilang Satu Tumbuh Seribu

Delcont atau delete contact menjadi kosakata baru semenjak era Blackberry tiba. Delcont adalah sebuah kegiatan dalam rangka menghapus jejak pertemanan (daftar kontak teman). Biasanya yang terkena dampak delcont sedikit misuh-misuh, merasa kecewa dan berujung pada dendam kesumat. Eh, kenapa saya sok tahu begini yah, mengatakan bahwa mereka tidak bisa menerima kalau dirinya ter-delcont.

Meskipun prediksi ini tidak akurat, karena hanya hasil pantauan dari status BBM, Facebook, Twitter semata. Tapi entah lah, otak saya ini memang termasuk otak kekinian yang mainstream. Kadung mempercayai tulisan-tulisan pendek galau yang tersebar dengan cepat melebihi kecepatan cahaya. Padahal mungkin saja ketika dia menulis betapa merana dirinya ter-delcont. Dia menulisnya sambil berpesta pora. Who know. Siapa tahu. Tahu bulat lima ratusan.

Ini cerita saya yang ter-delcont dengan tiba-tiba dan membuat dunia saya....

Tantangan Berkebun Di Perkotaan

Tahun 2019, saya memutuskan untuk berkebun dengan serius. Perlu saya garis bawahi kata serius ini. Serius. Gak main-main. Saya ingin membuat satu sistem berkebun yang berkesinambungan. Selaras dengan alam serta mendukung misi pemerintah. Menciptakan ketahanan pangan. Membentuk masyarakat yang berdaya guna tingkat dewa. Halaaaaah, panjang amatdan agak-agak halu. Any way sebab mengapa saya berkebun bisa melipir ke sini. Setidaknya ada dua tantangan yang harus dihadapi ketika memulai berkebun di perkotaan. Tantangan yang bersifat minor dan mayor. Apa saja tantangannya itu? Hayuuuk kita preteli.