Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2015

There Aint No Such Thing as a Free Lunch

Menyebutnya sebagai Bandar ayam memang bukan tanpa alasan. Beliau adalah salah seorang pengendali pasokan ayam di kota Bandung. Bisa jadi dia juga mampu mengendalikan harga ayam itu sendiri. Eh, kok, malah jadi su’udzon gini. Kata dia, menjadi bandar ayam itu karena terpaksa. Terpaksa karena di kampung orang tua dan adik-adiknya butuh biaya. Terpaksa, karena di kampung mah sedikit lahan pekerjaan. Tidak ada pabrik, tidak ada gedung perkantoran. Tidak ada apa-apa kecuali ada lahan dan ayam. Terus, terpaksa karena dia gak punya keahlian yang mengagumkan. Padahal dalam ijazahnya tertulis dia lulusan SMK. SMK teknik mesin, jatuhnya malah ngurus ayam. Saya tanya pada dia soal keahlian mengagumkan itu. “Itu lho yang seperti orang-orang sekarang. Ahli mengendalikan komputer. Bawa-bawa gadget kemana-mana. Pakai kemeja, dasi dan sepatu mengkilat.” Jawab dia setengah grogi. “Tapi mending jadi bandar ayam lah, daripada menjadi bandar narkoba,” puji saya. Eh, dia malah tersipu-sipu dengan pujian say…

Infotemen: Hanya Aku dan Tuhan yang Tahu

Ada kata info dan taiment (dari entertainment) dalam infotaiment. Kalau secara dangkal diterjemahkan sebagai kabar buat penghiburan. Buat suka-suka saja, agar orang yang sedang lara mendengarnya jadi terhibur.


Beberapa acara infotaiment buat rujukan untuk melihat keinginan pasar ;)
Saya sendiri sebetulnya kurang suka dengan program tayangan ini. Berhubung tuntutan pekerjaan jadinya, saya jadi sering melihat acara gosip. Melihat saja tidak menyimak, karena sesungguhnya saya tidak tahu mereka siapa dan apa peran mereka dalam dunia seni (biasanya yang diberitakan orang-orang yang berkiprah di dunia seni). Sumpah, Suwer!! Ini bukan alasan yang mengada-ada atau rekayasa.

Ada kalanya pengetahuan yang diperoleh dari acara infotaiment semacan mata uang dalam mencari peluang. Misalnya begini, ada klien yang meminta pernak-pernik hantarannya berwarna hijau. Saya ajukan berbagai warna hijau, dia tolak semua. Saya hampir putus asa, masa saya harus mengajukan warna hijau rumput tetangga. Itu bisa…

Sekedar Nama Panggilan

Pernah sekali nama itu saya hapus dari daftar kontak. Sudah saya bakar juga kartu nama yang beliau berikan pada saat berkenalan. Sampai tidak ada  jejak  sama sekali. Itu opearsi standar toh, semacam ritual buang sial.  Maka ketika beliau mengontak saya kembali, saya tidak langsung menyahutnya dengan alasan sebagai berikut ini : 1.. Saya pikir itu tawaran asuransi. Penawaran asuransi sedang marak betul. Mungkin salah satu sebab dari peralihan semua harus pakai BPJS. Mungkin juga karena dicanangkan tahun asuransi nasional. Entah, wallahu alam bisawab.
2. Penawaran kredit tanpa Agunan (mungkin jika kredit tanpa cicilan saya masih bisa pertimbangkan) 3.Telpon penipuan. Diaku sebagai pemenang dari undian Bank, pengisian Pulsa dan sebagainya. Ketika tahu  si beliau yang menelpon, rasanya kaget luar biasa. Lebih kesal dari tiga sebab diatas kalau tahu sudah saya reject duluan. Tapi Setelah serangan bujuk rayu dan tipu daya, alih-alih saya memblokir nomor tadi, malah kepikiran memberikan credit …

Mamah dan Puasa hari ke-22

Pagi. Pulang tadarusan, Mamah datang dengan wajah murka. Beliau ngomel-ngomel dengan sewot. Padahal sekarang bulan puasa di mana setan-setan diikat gak bisa berkeliaran. Lagian mamah pulang tadarusan pula. Kenapa setannya malah berakumulasi gitu yaaa?
Ternyata oh, ternyata sandal kesayangan mamah ada yang menukar. Sandal kesayangan mamah adalah selop dari kulit. Warnanya coklat muda dengan aplikasi bunga-bunga warna krem. Saya membelinya dua tahun lalu di sebuah pameran di Graha Manggala Siliwangi dengan harga bersahabat sebagai sesama peserta pameran. Halaaaaaaah, koq jadi buka-bukaan riwayat sandal sih. Anyway, sejak saat itu sandal hasil buruan dari pameran menjadi kesayangan dia. Selain modelnya yang agak vintage, sandal itu memberikan kenyamanan luar biasa buat kaki mamah.
Sialnya di Bulan puasa 1436 H hari ke 22, sandal sebelah kiri raib dan tertukar dengan sandal jepit warna fuschia buatan China (ada tulisannya jelas sekali. Sedangkan sendal mamah asli buatan Indonesia bagian w…

Berita Sentimen

Judul beritanya membuat saya penasaran, makanya begitu nongol lagi saya langsung sambit mengklik-nya. Ini berita sentimen.Tulisannya gak sampai seribu kata. Pasti cepet dong dibacanya. Nah, ini yang jadi masalahnya. Ketika saya membacanya dan berkali-kali saya baca. OK, dengan tulisan yang kurang dari 1000 kata harusnya akan lebih mudah dibaca dan dicerna. Saya malah merenung, mencoba menyimak tulisan ini. Dodol sekali.


Saya memang suka terbawa "sakaba-kaba" (kurang lebih artinya mirip dengan pergaulan bebas). Termasuk soal bacaan. Jenis bacaan ini memang lagi happening di newsfeed dan timelines saya, makanya bikin saya penasaran. Plus ditambahi dengan komentar yang menakutkan dari pelaku sharer (Heu heu heu.... kalau tukang Sharing berita di medsos namanya Sharer bukan? Sharer Sungkar.)
Setelah berulang kali saya baca saya tetap saja gak ngerti ini berita. Arti menari saya mengerti lah, pasti semacam party-party. Senang-senang.  Judulnya saya ngerti. Nah, isi beritanya, b…