Langsung ke konten utama

seberapa manusia kah anda?

Ketika sedang membeli kebutuhan konveksi untuk usaha kecil saya yang mulai merangkak tertatih-tatih. Dua orang pengamen menghampiri lalu mengapit sisi kanan kiri. Dengan lantang mereka mulai meneriakkan lagu kebangsaan cinta yang tertindas dan mendayu-dayu. Tentu saja, transaksi yang tengah dilakukan sedikit terganggu. Otomatis kami berdua membesarkan volume suara, tapi rasanya percuma karena kedua pengamen itu tak kalah gesit dengan membesut gitarnya, yang saya tidak tahu melodi apa, karena rasanya tidak ada harmonisasi antara keduanya. Kami terdiam, saya dan si akang yang melayani, karena tahu usaha kami akan sia-sia. walaupun di etalase dan pintu masuk toko tertulis dengan jelas "NGAMEN GRATIS" dan menurut pengetahuan saya, sekencang apa pun ada menyanyi, itu GRATIS!
Sungguh tidak nyaman dalam kondisi himpitan teriakan mereka sehingga saya mengambil selangkah mundur dan langsung berpindah posisi dengan memberi kode kepada si akang, transaksi dilakukan dengan pindah lokasi.
"Hargai kami dong Bu, kami juga manusia!" hardik salah satunya dilanjut omelan dengan ungkapan-ungkapan pedas sehingga menyita perhatian pengunjung yang lain sebagai protes dengan sikap saya yang meninggalkan mereka tengah bernyanyi atau meracau.
Saya berusaha untuk tidak mengindahkan, dan melanjutkan transaksi. Rupanya sikap ini membuat dia semakin kesal lalu menghampiri saya untuk memberi kuliah tentang kemanusiaan.
Dan kali ini dia berhasil mendapatkan perhatian saya, tetapi tidak uang saya, walaupun dalam bentuk recehan. Akang pelayan terlihat ketakutan, jujur dalam hati pun saya takut. Was-was jika keluar dari toko ini, mereka akan membawa seluruh anggota komunitas dan menyerang saya, melakukan tindakan kriminal yang menakutkan atau melanjutkan kuliah ke tingkat berikutnya. Semua bisa saja terjadi.
Selama dia memberi kuliah pikiran saya pun melayang, seberapa manusia kah anda? mengapa dia menuntut diperlakukan sebagai manusia kepada saya, apakah dia tidak memperlakukan dirinya sendiri sebagai manusia.
Sebagai manusia saya menghargai si akang pelayan yang bekerja melayani semua pembeli yang rata-rata ibu-ibu super cerewet dengan akurasi penilaian terhadap barang cacat yang tinggi. mengapa dia sendiri tidak memperlalukan dirinya sebagai manusia, misalnya dengan memakai pakaian yang lengkap, membaca pengumuman yang terpampang dengan jelas bahwa "NGAMEN GRATIS", bertindak sopan. sesusah itu kah diri kita memperlakukan diri menjadi manusia?
oh, how human are you? kurang manusia apa coba

Komentar

Silahkan mampir

Perempuan belum menikah dilarang sakit Asam Lambung

Siang itu, saya datang ke pantry tetangga sambil meringis menahan sakit. Sejak Senin lalu, dokter memvonis saya dengan asam lambung berlebih. Dada rasanya terbakar, setiap menarik nafas. Sesak. Saya benar-benar kaget mengetahuinya. Komponen utama asam lambung yaitu asam chloride. Salah satu anggota golongan asam kuat. Perpaduan dengan senyawa ‘X’ akan menghasilkan sesuatu yang dahsyat. Satu larutan yang mampu merontokkan logam. Moal dibeja-an senyawa X itu apa, bisi diturutan. Coba-nya kalau bisa dikeluarkan si asam lambung dari perut saya. Lalu dijual. Akan menguntungkan meureun. Karena asam chloride ini banyak yang membutuhkan.

Delcont: Hilang Satu Tumbuh Seribu

Delcont atau delete contact menjadi kosakata baru semenjak era Blackberry tiba. Delcont adalah sebuah kegiatan dalam rangka menghapus jejak pertemanan (daftar kontak teman). Biasanya yang terkena dampak delcont sedikit misuh-misuh, merasa kecewa dan berujung pada dendam kesumat. Eh, kenapa saya sok tahu begini yah, mengatakan bahwa mereka tidak bisa menerima kalau dirinya ter-delcont.

Meskipun prediksi ini tidak akurat, karena hanya hasil pantauan dari status BBM, Facebook, Twitter semata. Tapi entah lah, otak saya ini memang termasuk otak kekinian yang mainstream. Kadung mempercayai tulisan-tulisan pendek galau yang tersebar dengan cepat melebihi kecepatan cahaya. Padahal mungkin saja ketika dia menulis betapa merana dirinya ter-delcont. Dia menulisnya sambil berpesta pora. Who know. Siapa tahu. Tahu bulat lima ratusan.

Ini cerita saya yang ter-delcont dengan tiba-tiba dan membuat dunia saya....

Tantangan Berkebun Di Perkotaan

Tahun 2019, saya memutuskan untuk berkebun dengan serius. Perlu saya garis bawahi kata serius ini. Serius. Gak main-main. Saya ingin membuat satu sistem berkebun yang berkesinambungan. Selaras dengan alam serta mendukung misi pemerintah. Menciptakan ketahanan pangan. Membentuk masyarakat yang berdaya guna tingkat dewa. Halaaaaah, panjang amatdan agak-agak halu. Any way sebab mengapa saya berkebun bisa melipir ke sini. Setidaknya ada dua tantangan yang harus dihadapi ketika memulai berkebun di perkotaan. Tantangan yang bersifat minor dan mayor. Apa saja tantangannya itu? Hayuuuk kita preteli.