Langsung ke konten utama

Menata hati dengan Bertani (Belajar bertani di perkotaan)


Ma’afkan jika judulnya agak syahdu-syahdu begitu. Sudah lama tidak menulis, jadi bikin judul saja sudah absurd. Sesungguhnya tulisan ini tidak mengandung tata cara mengelola patah hati. Apalagi me-manajem kalbu. Wow! Pisan bahasan soal hati dan kalbu mah. Gak akan mampu saya. Lebih baik diserahkan pada ahlinya.

Tapi benar kok, mungkin untuk sebagian orang, bertani itu untuk pelepas penat. Sebab penat bisa berasal dari perasaan dan pikiran. Untuk saya, alasan bertani bisa dilihat pada postingan ini . Saya bertani dengan berbagai cara. Manual, konvesional, matic kalau ada mah. Saya jabanin juga deh.   

Hello world

Saya belajar hidroponik secara autodidak. Eh, dibawah bimbingan um gugel dan Mamang Youtube ketang. Dan beberapa buku panduan yang saya dapatkan atas dukungan semesta. Maksudnya pas saya lagi butuh tiba-tiba ada yang mampir terus ngasih buku. Ketika saya mau menanam, tiba-tiba bapak diundang pemkot sebagai warga veteran kota Bandung untuk kegiatan Bandung berkebun. Pulang bawa benih dan pupuk. Beberapa kali bapak diundang ikut seminar hidroponik. Karena menurut beliau terlalu njelimet maka semua starter kit beserta buku-buku panduan jatuh ke pangkuan saya. Alhamdulillah, Mestakung. Akhirnya saya bisa juga uji coba bertanam kekinian. Hidroponik.

Dalam Rutan


Waktu itu hasil panen dari belajar autodidak menurut saya kurang maksimal. Saya merasa kurang puas. Meskipun menurut teman saya rasanya enak. Sayurannya manis dan crunchy. Karena melihat saya gundah guladig terus, akhirnya teman saya yang bekerja di departemen HRD memberi saran untuk berkonsultasi pada ahlinya. Dia menyebutkan satu nama dan menyarankan untuk dihubungi. Anak HR dilawan. Mereka mah bagaikan database. Punya segudang teman berbagai latar kabisa.

Ternyata konsultannya gak jauh-jauh juga sih, satu kantor beda department. Mestakung lagi. Kata dia, ada beberapa faktor yang membuat sayuran saya kurang maksimal. Bisa dari Nutrisi, cahaya matahari dan perawatan. Untuk lebih jelas saya dianjurkan ikut Les di Graceful hydroponic. Mumpung sedang buka pendaftaran. Awal sempat ragu untuk ikut. Biasanya belajar hidroponik itu berlangsung hanya satu hari. Nanam kangkung, kalau enggak Pakcoy… and  the bray and the bray. Selesai. Pasti endingnya seperti yang sudah-sudah. Tapi Wait….. tunggu dulu!

Berkenalan dengan Graceful Hydroponic.

Setelah mengenyahkan keraguan, saya langsung cus daftar ke Graceful Hydroponic. Berikut beberapa informasi mengenai daftar di Graceful hydroponic:

1. Ikut les di Graceful Hydroponic harus melalui sponsor. Beruntung sekali saya. Niat baik belajar bertani direspon semesta dengan komplit. Nanya-nanya langsung disponsori. Alhamdulillah. Hatur Nuhun Gina dari Dept. Purchasing. Dan Hani dari HRD yang telah menyarankan.
2. Ada tiga pilihan pendaftaran. Kita bisa memilih mendaftar dengan paket full starter kit. Terdiri dari baskom, keranjang, 3 macam benih, 2 jenis kain.Biayanya kurang dari 200rb (Sekitar bulan Maret 2019). Mendaftar hanya membeli benih saja (Biaya kurleb 60rb). Ketiga. Mendaftar tanpa membeli starter kit maupun benih. Untuk yang ketiga tidak kena Charge
3. Pendaftaran melalui Whatsapp atas peran sponsor tentunya. Karena kita diwajibkan menuliskan nama sponsor beserta nama kelompok sponsor.
4. Lesnya online dooong, hari gini gitu lhooo.
5.  Waktu les setiap hati. Intensif 3 bulan hingga sekarang.
6. Pembukaan pendaftaran berkala. Jadi tidak setiap saat menerima anggota baru. Ada masa-masanya.
Panen pakcoy

Setelah mengikuti prosedur pendaftaran saya diterima dan tergabung di grup O. Ada 2 WAG yang harus saya ikuti. WAG pertama terdiri dari 6-7 orang, ditambah 2 mentor. Nama WAGnya O-4. WAG kedua adalah gabungan seluruh peserta grup O. Untuk setor foto dan penilaian. Oh ya nanti kita diberi rapot. 
Les dimulai serentak, setelah seluruh pengiriman paket bahan belajar diterima oleh peserta. 

Tahapan pelajaran dimulai dari yang paling dasar. Pengecekan air baku yang akan digunakan, lokasi tempat kita menanan, teknik foto untuk pelaporan dan hal detail lainnya. Didukung oleh teori yang kita peroleh setiap hari melalui WAG. Nah ini Bro and Sis, perbedaan dengan workshop hidroponik yang pernah saya ikuti. Umumnya biaya workshop berkisar antara 300-600 rb. Durasinya satu hari. Setelah workshop selesai. Ya, selesai.
namanya netpot

Mengikuti pelajaran di sini perlu disiplin tingkat tinggi, karena setiap kegiatan yang berpraktik dilaporkan melalui foto. Laporan setiap hari. Selama tiga bulan. Tidak boleh ada yang bolong. Jam pengambilan foto pun harus disesuaikan. Sudah puguh kita harus memperhatikan sudut pengambilan gambar. Ini akan mempengaruhi penilaian. Bagaimana kalau kita bolong-bolong dan tidak taat aturan? Mereka gak segan mengeluarkan dari grup. Jadi sayang sekali kalau disia-siakan.

Penyemaian pertama adalah selada. Padahal Awalnya saya pikir pasti bakal kangkung, ternyata bukan pemirsaaaah. Selada. Which is selada itu ada teknik sendiri dalam penyemaian. Seperti bentuk benih pada saat penanaman harus mengikuti gaya gravitasi. Mesti nungging, ujung lancipnya mengarah ke bumi. Rutan, bukan rumah tahanan. Melainkan rumah tanam dibuat dari botol air mineral yang dibungkus dengan plastik warna gelap serta stryrofoam.
nanam kangkung di Keranjang is my favourite

Pencarian botol ex air kemasan dan Styrofoam ada cerita tersendiri bagi saya. Sudah lama saya diet air kemasan, maksudnya agar tidak nyampah. Nah, sekarang harus cari sebanyak 15 buah pula. Kalau beli ke mini market sekaligus, terbayang beratnya harus bawa air 15 botol ukuran 1,5 L. Pas lagi mikir di angkot saya liat di bawah jok banyak botol berserakan. Saya tanya mamang angkotnya, apakah botol-botol itu dibuang?

Mamang angkot malah kaget. Curiga. Kalau saya anak buah Kang Emil (Gubernur Jabar) yang sedang nyamar. Dia langsung minta ma’af kalau diangkotnya belum menyediakan tempat sampah lagi. Tempat sampah sebelumnya entah kemana. Setelah saya jelaskan sebetulnya saya butuh botol-botol tadi untuk bercocok tanam. Bukan sedang inspeksi angkot. Mamang Angkot langsung tersenyum. Dan mengiyakan. Manggaaaaaa… dengan gembira.

Styrofoam juga lumayan susah dicari. Ternyata oh ternyata kemasan Styrofoam di tukang buah, sudah ada pengepulnya. Akhirnya saya dapatkan di Borma dan di Yogya Kopo. Lumayan, tadinya mau beli malah dikasih dengan gratis. Pulanglah saya naik gojek dengan angkaribung.

Nanam di Rutan bekas air mineral bagi saya gak recommended untuk jangka panjang. Hidroponik butuh cahaya matahari sedangkan bahan-bahan tersebut kayaknya kurang bagus kalau terkena cahaya matahari terus menerus. Takutnya malah bercampur baur dengan larutan nutrisi. Plastik nanti tercacah menjadi ukuran mikro dan nano lalu terserap. Selain itu Residu lain harus diperhatikan juga. Seperti rockwool, sisa nutrisi serta flannel bekas sumbu. Mungkin itu sedikit minusnya dari bertani ala hidroponik. Bagi saya. Walaupun hasilnya menggembirakan.

Mengenai cost produksi antara bertani konvensional dan hidroponik, gak terlalu jauh beda. Relatif. Tergantung pakai sudut pandang mana kita melihatnya.
Mungkin pada pertanian manual kita butuh lahan. Dan beli lahan itu, oh my God banget deh!
Hidroponik kita butuh rockwool, nutrisi dan sarana lainnya. Seperti pipa paralon, net pot, air, bikin green house, biaya listrik kalau pakai sistem NFT.  Paling simple memang pakai sistem wick ini.

Banyak hal yang saya pelajari di sini. Tidak hanya melulu menyemai. Banyak kegiatan seru. Ada bazzar, lomba hasil tanam. Membuat Toge, telur asin. Beberapa hasil karya saya posting di IG. Yang paling baru adalah membuat tempe. Membuat tempe itu butuh effort yang banyak.







Membuat Tempe! Hampir menyerah ketika di tempat belajar bertani mengajak membuat tempe. O Em Ge! Eh, tiba-tiba matkul Pengolahan Hasil Pertanian, harus praktikum membuat tempe pula. Yowis Ben, Sekali mendayung, pulau Bali sekalian dijabani. Bikin tempe terbayang harus membersihan kulit kedelainya. No wonder banyak pengerajin tempe mengerahkan segala kekuatan untuk mengupas. Pakai kaki. Kaki di kepala, kepala di kaki. Kulit ari dan kedelai masa jenisnya hampir sama. Pakai air sulit berpisah. Padahal sudah direndam semalaman. Mungkin harus minta bantuan gaya sentrifugal, buat misahin mereka <-- it means help for innovation. Selain soal bersihin, kendala saya segan bikin tempe karena harus kerja sama dengan ragi. Bakteri, ragi and sejenisnya mengingatkan saya pada praktikum mikrobiologi. Inget Bu Deudeu & Bu Yuni (Semoga selalu sehat ya para Bu....) Sempat was-was apakah akan muncul hifa yang bergerombol jadi mycelium? Apa mereka ikut social distancing jadi gak muncul?? But well.. Here we are penampakan tempe goreng (tanpa bantuan kaki 😁) di slide pertama. Kumpulan mycelium warna putih. Empuk kayak awan (slide 2) And the fact is: 1. Kedelai masih impor. hal ini bisa terjadi: mungkin olahan berbasis kedelai sangat banyak. Sedangkan produksi kedelai kita kurang. penyebabnya entah karena tidak ada lahan, sulit nanam kedelai. Iklimnya gak cocok. Atau bawaanya males aja. 2. The most important kalau kamu makan tahu atau tempe dicoel sama kecap, itu tandanya kamu makan kedelai dan kedelai. (Saya juga baru nyadar pas bisa bikin tempe) Sekian #tempe #membuattempe #praktikum #gracefulhidroponik grup O
A post shared by Bioeti Yeni Kurnia (@bioeti) on



Tali kasih.

Uniknya Graceful hidroponik mempertemukan kembali dengan beberapa teman lama. Jadi semacam tali kasih. Diantaranya saya bertemu kembali dengan Bapak Made. It’s been berapa tahun yang lalu??? Serasa mimpi. Semesta memang penuh kejutan. Oh ya Pak, Mikrobiologi ya Pak, tanpa "S" bukan mikrobiologis.
Terima kasih telah berbagi ilmu dan menginspirasi untuk bertani sesuai jamannya.

Sekian berbagi pengalaman mengenai belajar bertani di kota. Lanjut makan tempe goreng buatan sendiri. Gurih, enyaaaak.
Tulisan ini dibuat pada saat WFH. Dikarenakan pandemic Covid-19

Komentar

  1. berekbun katanya bikin hati jadi tenang

    BalasHapus
  2. Waahh pokcoynya segeeeeer bangetttt mba. Aku paling suka liat sayuran seger, hijau begini. Dimasak apapun rasanya jd enak ;). Memang hrs telaten sih yaa kalo mau menanam ini. Namanya aja menumbuhkan makhluk hidup lain. Jujur aja aku ga terlalu sabar dan telaten kalo soal tanam menanam :D. Suka sih liat hasil kebun temen2, tp nyobain sendiri kayaknya msh belum :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuuuk kita mencoba bertanam. Seruu

      Hapus
  3. Ini cara unik yang bisa dipakai orang2 yang hatinya sedang rusuh : bertani. Etapi ga semua orang bertangan dingin rawat tanaman. Kapan2 ditunggu pakcoynya lagi, Teh.huehehe...

    BalasHapus

Posting Komentar

Feel Free untuk menaruh komentar. Pasti akan dikunjungi balik.
Oh ya, link hidup sebaiknya jangan yaaa... nanti saya matiiin lhooo.

Silahkan mampir

Perempuan belum menikah dilarang sakit Asam Lambung

Siang itu, saya datang ke pantry tetangga sambil meringis menahan sakit. Sejak Senin lalu, dokter memvonis saya dengan asam lambung berlebih. Dada rasanya terbakar, setiap menarik nafas. Sesak. Saya benar-benar kaget mengetahuinya. Komponen utama asam lambung yaitu asam chloride. Salah satu anggota golongan asam kuat. Perpaduan dengan senyawa ‘X’ akan menghasilkan sesuatu yang dahsyat. Satu larutan yang mampu merontokkan logam. Moal dibeja-an senyawa X itu apa, bisi diturutan. Coba-nya kalau bisa dikeluarkan si asam lambung dari perut saya. Lalu dijual. Akan menguntungkan meureun. Karena asam chloride ini banyak yang membutuhkan.

Tantangan Berkebun Di Perkotaan

Tahun 2019, saya memutuskan untuk berkebun dengan serius. Perlu saya garis bawahi kata serius ini. Serius. Gak main-main. Saya ingin membuat satu sistem berkebun yang berkesinambungan. Selaras dengan alam serta mendukung misi pemerintah. Menciptakan ketahanan pangan. Membentuk masyarakat yang berdaya guna tingkat dewa. Halaaaaah, panjang amatdan agak-agak halu. Any way sebab mengapa saya berkebun bisa melipir ke sini. Setidaknya ada dua tantangan yang harus dihadapi ketika memulai berkebun di perkotaan. Tantangan yang bersifat minor dan mayor. Apa saja tantangannya itu? Hayuuuk kita preteli.

Berbagi Kelembutan Bolu Susu Lembang, Oleh-Oleh Bandung Pisan

Dalam tubuh saya mengalir tiga perempat darah Ciamis. Mamah pituin Ciamis. Lahir di Ciamis, semenjak ABG hingga sekarang Mamah menetap di Bandung. Mengikuti suaminya. Iya, suaminya teh, bapak saya. 
“Suami Mamah saya adalah Bapak Saya. Seperti judul sinetron nya? Bapak sendiri berasal dari Banjaran. Tetapi setelah ditelusuri silsilanya eh, masih ada keturunan Ciamis. Jadi lah saya ini berdarah campuran. Walapun hanya seperempat dan tiga perempat.Banggapisanberdarah indo. Kudu bangga atuh, da saya termasuk produk indo memenuhi standar kearifan lokal.