Minggu, 31 Maret 2019

It's only Gravity matter


“Universe, your harmony is my harmony, nothng in your time is too early or too late for me” – Filosofi Teras

Kalimat di atas saya ambil dari buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Petikan wawancara Om Piring dengan founder nulis buku. Saya adalah pengagum diam-diam Om Piring. Saya sering stalking twitternya. Ketawa-ketawa sendiri ketika membaca blognya.

Gravitasi
Harmoni dengan alam

Hidup ini adalah gravitasi. Itu menurut saya sebagai pengagum ilmu pasti. Padahal hakekatnya ilmu pasti adalah ilmu yang tidak pasti. Ilmu pasti itu berkembang. Dulu atom berbentuk roti kismis. Atom adalah satuan terkecil. Eh lalu ada teori, ternyata dalam atom ada inti atom. Lalu ditemukan neutron, proton dan elektron. Lalu ketemu kuantum, ada phi dan kawan-kawan. Lalu ada materi dan anti materi. Kayak gitu lah contohnya. Jadi apa yang pasti dari ilmu pasti?  Gak ada yaaaa… CIIMIW

Lho, malah ngomongin atom ya, balik lagi pada gravitasi. Sejak mengenal gravitasi, gara-gara Sir Issac Newton terheran-heran melihat apel jatuh dari pohonnya. Kalau jadi saya mah lihat apel jatuh nya dipulung saja. Dimakan. Tanpa perlu pikir-pikir panjang. Tapi tidak buat Sir Issac Newton. Dia malah kepikiran mengenai semesta raya. Dan saya sangat mengagumi teori penemuannya.  

Pada hakekatnya  apa yang terjadi pada kehidupan di bumi ini adalah aplikasi dari gravitasi. Semisal matahari dan bumi dan bulan dan planet lainnya saling tarik menarik. Energi yang mereka lepaskan untuk menarik akan berbanding lurus dengan yang didapatkan. Dan kita pasti akan tahu, jika ada energi lain yang merusak keteraturan daya tarik menarik ini.

Kita merusak alam, mengambil alih fungsi hutan. Terus terjadi longsor. Membuang sampah sembarangan. Terjadi banjir. Sebab-akibat. Demikian pula ketika melakukan kebaikan. Akan dibalas kebaikan. Kejahatan dengan kejahatan. Bersedekah untuk menarik rezeki. Untuk menarik jodoh dan lain-lain.  Untuk menarik klien diberi umpan dulu. Berusaha menambah jumlah follower agar bisa dapat job-job-job. See how gravitasi bekerja secara diam-diam.

Terus apa hubungannya gravitasi dengan tema kolaborasi teman-teman dengan Bandung Hijab Blogger kali ini? Nah, sejujurnya saya pun mencari keputusan terbesar apa yang pernah saya lakukan dalam hidup ini yang menjelang…..enggggg (tiba-tiba nge-hang). Demi tulisan ini saya sampai minta bantuan Teh Sugi Siswiyanti mencari tahu. Saya curhat belasan jam membongkar aib nasional hidup saya pada dia.
  1.       Apakah ketika saya (Kami) memutuskan tidak menikah di usia dua puluhan. Karena masih sama-sama belum siap?
  2.           Apakah ketika saya menolak the “X”, lalu setelah puluh tahun kemudian dia datang sebagai orang yang berhasil? Walaupun saya tidak tahu maksud kedatangannya apakah tulus bernostalgia atau sekadar “memamerkan” keberhasilannya agar saya menyesal.
  3.           Apakah tentang saya memutuskan berganti-ganti mencoba usaha yang cocok  (jadi wirausaha ceritanya)?
  4. Dan masih banyak yang saya diskusikan. Bisi bosen kalau ditulis semua.

Pernah ada sesal ketika ada orang yang mengompori, seandainya saja saya memutuskan untuk mengiyakan nikah pada usia sangat muda. Atau menerima seseorang yang akhirnya tajir melintir, mungkin hidup saya tidak akan ‘statis’ seperti sekarang. Tapi saya menepis prasangka itu. Karena pada saat kejadian itu berlangsung, saya merasa tidak sedang membuat keputusan besar. Saya hanya merasa menjalankan skenario-Nya. Melakukan apa yang harus dilakukan.

Jika saja ya, dulu kami menikah. Saya tidak tahu apakah kami saat ini masih bersama. Melihat time lime media sosialnya, dia sangat militan mendukung salah satu paslon. Saking cinta mati, berita-berita yang tidak benar pun disebarkan juga. Jangan-jangan saya tidak akan bebas menulis curhat di blog, dilarang jadi pengikut lambe turah. Waaaah, bisa gak seru. Tombol unfriend dan unfollow siap-siap beraksi.

Jika saya tidak menolak seseorang yang sekarang menjadi orang sukses di wilayah Bandung dan sekitarnya. Tapiiiiii, saya tidak yakin jika dia akan menjadi sukses ketika hidupnya berpartner dengan saya. Bagaimana jika pintu rezekinya ada ditangan istrinya. Jika istrinya adalah saya, atau dia berganti istri atau menambah istri bukan karunia yang didapat. Malah petaka. Wallahu alam bisawab.

Mengenai keputusan saya untuk melakukan wirausaha itu bukan suatu perkara besar. Mencoba-coba. Berganti usaha yang satu dengan yang lain. Dari kuliner, craft, fashion hingga berkebun. Itu sudah jadi tuntutan kehidupan. Bukan keputusan. Menurut saya itu mah.


Tak menyangka tema sederhana ini akan menggali kehidupan saya lebih dalam. Mengenai luka-luka. Masa-masa sulit dan semua masa lalu yang tiba-tiba rekamannya diputar ulang.

Tentang Kesukaran dan kebahagian yang datang silih berganti. Entah berapa belas kilo meter saya lalui sambil mencari keputusan besar dalam hidup ini. Setiap saya naik angkot atau ojol pasti terpikirkan. Entah berapa orang mamang driver ojol yang saya tanya mengenai keputusa(sa)n ini. Hingga saya berasumsi, jangan-jangan saya tidak pernah memutuskan apapun dalam hidup ini, hingga hidupnya statis.

Pikiran dan hati saya langsung menyangkal ketika saya menyatakan hidup saya statis. Lantas apa???
Saya adalah seorang pembuat keputusan yang payah. Berulang saya menyesali keputusan yang saya pilih. Lalu berharap Tuhan memberikan kesempatan sekali lagi agar bisa mengambil keputusan sebaliknya. Dan ketika kesempatan itu datang. Keputusan yang saya ambil tetap salah lagi. Padahal saya mengambil sebaliknya.

Daripada menyangkal terus menerus, saya memutuskan untuk menerima dan berkompromi. 

Ketika saya membaca buku Filosofi Teras, sedikit demi sedikit saya menemukan jawaban. Dan bisa jadi ini adalah keputusan terbesar yang pernah saya lakukan.

Kompromi. Ya, keputusan terbesar dalam hidup yang pernah saya lakukan adalah kompromi. Berkompromi dengan dampak keputusan yang saya ambil. Kompromi dengan rasa sakit. Kompromi pada orang-orang yang menyalahgunakan kebaikan saya. Tidak berminat sedikit pun menaruh dendam pada mereka. Tidak memohon pada Tuhan, mereka-reka hukuman yang pantas untuk mereka-mereka yang telah menyakiti saya. Membiarkan apa yang seharusnya terjadi walaupun saya bersusah payah mengerjakannya. Atau menginginkannya.

Sebuah keputusan akan menimbulkan satu resiko. Baik itu resiko yang bersifat positif mau pun negatif. Dan lagi-lagi, Einstein menyatakan dengan hukum relativitas (tuuuuh-nya. Ma’afkan jika menyeret mereka kedalam curhatan retjeh saya). Semua ini berjalan dengan relatif. Saya jadi ingat dengan sebuah ayat yang isinya kurang lebih seperti ini.  Baik menurut kamu belum tentu baik menurut-Nya. Begitu pula buruk menurut kamu, padahal itu terbaik.

Gravitasi
Lapar adalah satu hukum alam

So, when I  thought as big decision . Sesungguhnya hanyalah butiran debu untuk orang lain.

18 komentar:

  1. Luar biasa sharingnya, sebagai orang yang ga 'bakat' dengan sains aku rada berpikir sudut pandang lain dalam melihat suatu kejadian.. Nuhuns

    BalasHapus
  2. Wah,mantap nih. Jawabannya adalah kompromi. Filosofis sekali. Mungkin ini yang disebut filsafat yg lebih dr filsafat.halah apaan seh..Anyway, berkompromi itu berat. Butuh kebesaran hati dan kelapangan dada menjalaninya. Good luck,teh :D

    BTW, itu nama saya bisa pake backlink ke tulisan saya tentang mencari esensi kehidupan loh. Haiyah,maunyaa hahaha...

    BalasHapus
  3. Kadang keputusan besar itu hasil dari keputusan2 kecil yang kita ngga ngerasa "memutuskan"..just go with the flow.. Ga nyangka tema collab yang cuma 3 kata ini bikin kita banyak mikir ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuul, saya tidak menyangka akan sedalam ini. Nuhuun buat semua teman-teman di BHB

      Hapus
  4. Dan ku terpukau...memang paling susah kompromi ya teh menerima efek dari segala keputusan kita. Jadi merenung lho serius ...

    BalasHapus
  5. seneng banget baca postingan ini, tema kali ini bener-bener kita jadi mikir banyak ya teh

    BalasHapus
  6. Kadang ya kita udah gak mikirin tapi oranv lain yg datang dan nyentil2 ttg yg lalu2. Tp bener sih ttg kompromi.. kadang kita terlalu keras dan nyalahin diri sendiri tanpa tau hikmah di alik smuanya.. kl udh kompromi ama diri sndiri, rasanya lebih adem dan tenang..

    BalasHapus
  7. Keren detail gitu teh kisahnya. Jadi bikin mikir keras...btw foto endingnya bikin laper asli

    BalasHapus
  8. Berkompromi memang sulit ya teeh:"" apalagi dengan diri sendiri dan masa lalu😘

    BalasHapus
  9. Benerr yaa Teh, apa yg kita pikir sulit, ternyata buat org lain itu mudah...

    BalasHapus
  10. Mantap teh, di awal tulisan saya jadi serasa belajar Kimia dan Fisika, tapi di akhir tulisan, saya jadi belajar tentang kehidupan :)

    BalasHapus
  11. Luar biasa teteh demi nulis tema ini sampe curhat berjam-jam dulu. Untuk menghasilkan yang namanya Kompromi dalam hidup. Kenyataan kalo kita hidup dengan memakai cara pandang yang berbeda. Tapi apapun keputusan teteh semoga teteh segera dapat berkompromi dengan keputusan apapun yang teteh buat. Dan yang pasti semoga itu yang terbaik yah teh

    BalasHapus
  12. yup setuju teh, kompromi itu adalah kata kunci dalam pengambilan keputusan dan menerima konsekuensi dari keputusan tersebut

    BalasHapus
  13. Wah teh, ada keputusan tepat dibalik gak nikah muda, nanti hidup gak kayak hidup. Haha. Just kidding. Apapun kepputusannya yang pnting kita bahagiaaa

    BalasHapus
  14. Oh, pengagum Piring ya ternyata.

    BalasHapus
  15. kaya keputusan aku buat terus nulis hehe

    BalasHapus

Feel Free untuk menaruh komentar. Pasti akan dikunjungi balik.
Oh ya, link hidup sebaiknya jangan yaaa... nanti saya matiiin lhooo.