Selasa, 07 April 2020

Menata hati dengan Bertani (Belajar bertani di perkotaan)


Ma’afkan jika judulnya agak syahdu-syahdu begitu. Sudah lama tidak menulis, jadi bikin judul saja sudah absurd. Sesungguhnya tulisan ini tidak mengandung tata cara mengelola patah hati. Apalagi me-manajem kalbu. Wow! Pisan bahasan soal hati dan kalbu mah. Gak akan mampu saya. Lebih baik diserahkan pada ahlinya.

Tapi benar kok, mungkin untuk sebagian orang, bertani itu untuk pelepas penat. Sebab penat bisa berasal dari perasaan dan pikiran. Untuk saya, alasan bertani bisa dilihat pada postingan ini . Saya bertani dengan berbagai cara. Manual, konvesional, matic kalau ada mah. Saya jabanin juga deh.   

Senin, 27 Januari 2020

Siliwangi Bolu Kukus Oleh-Oleh Bumi Pasundan


Bermunculan kerajaan-kerajaan baru, beberapa pekan lalu. Mengingatkan saya pada sebuah diskusi belasan tahun silam bersama Amadeus Dedi, putra Cigugur Kuningan yang terdampar dengan betah di Bandung. Kala itu kami berdiskusi mengenai Uga Siliwangi. Ada juga yang menyebutnya Wangsit Siliwangi.

Minggu, 15 September 2019

Kuliah di UT dan Mendapatkan Beasiswa


Akhir Tahun 2017, saya mendaftar di UT (Universitas Terbuka). Kurang dari lima hari sebelum pendaftaran ditutup. Kuliah adalah hal yang sudah saya kubur, rasanya selain tidak akan kaotakan, teu katanagaan, mood-nya sudah beralih orientasi. Dulu memang saya pernah beberapa kali ikut kelas karyawan, eugh atuda selepas lulus sekolah perjalanan nasib membawa saya ke dunia karyawan. Bukan dunia kampus. Pas lulus SMK  mah semangat nga-gedur (artinya kurang lebih sama dengan semangat 45) untuk melanjutkan studi. Sempat ikut beberapa kelas karyawan di berbagai sekolah tinggi swasta. Dari sekolah tinggi yang izinnya sudah ada sampai yang masih dipikirkan saya jabanin. Sampai ada sekolah tinggi yang kabarnya sekarang teuing kumaha. Mungkin entah belum jodoh, atau hormon hoream terlalu menguasai tubuh. Kandas semua dunia perkuliahan saya saat itu. Dan setiap tahun selalu ada resolusi untuk melanjutkan. Tapi pasti sudah hapal, nasib resolusi itu hanya ada dalam catatan. Belum sampai tahap eksekusi.

Kamis, 22 Agustus 2019

Belajar nge-Vlog di Crowne PLaza Bandung


Tantangan menulis blog, semakin hari kian seru. Banyak hal yang dapat kita pelajari setiap hari. Seperti hari Minggu kemarin, saya ikut kegiatan untuk belajar membuat vlog. Ambil bagian di kegiatan singkat itu, bukan berarti saya akan menjadi pesaing Atta Halilintar. Melainkan lebih sekadar ingin belajar membuat video camperenik yang enak dicerna sebagai pelengkap blog saya (jika diperlukan). Agar yang menonton enak. Pesan yang saya sampaikan dapat diterima dengan baik. 

Sabtu, 17 Agustus 2019

BHB: Energi Tak Terbantahkan

BHB
Neng Rara as Founder BHB

Terlebih dahulu saya ingin meminta ma’af  yang sebesar-besarnya kepada Neng Rara serta seluruh teman-teman di Bandung Hijab Blogger (BHB). Seharusnya saya membuat tulisan ini fresh setelah acara berlangsung. Namun berkat saya yang saat itu sagala diiluan, sehingga saya kesulitan membagi waku antara menulis, membaca dan belajar, akhirnya tulisan ini mengendap. Telat lebih tiga bulan. I Know, I know you might think that I should check it ke bidan karena telah telat tiga bulan. Ma’afkan saya atas keterlambatan yang amat sangat ini.

Senin, 12 Agustus 2019

Partner ketiga: Unlock your dream with Vivo S-1


Target 2019, saya akan mewujudkan salah satu mimpi saya yaitu memiliki rumah makan. Menu yang ditawarkan adalah raw food. Eits, rada terlalu keren gimana gituuuu. <<<<Raw food>>>>. Sebetulnya makanan raw food tidak terlalu asing bagi orang Sunda mah. Bukan hal aneh, orang Sunda suka makan daun mentah. Segala jenis daun, terkecuali daun pintu, daun jendela dan daun telinga. Di-coel dengan sambal atau dibuat lotek (semacam gado-gado) atau karedok. Dibikin salad. Biar kekinian.
Memiliki rumah makan adalah kepanjangan dari mimpi saya sebagai petani. Ini bukan sekadar memiliki rumah makan, melainkan sebuah style. Yang mempunyai misi mewabahkan menyebarkan wabah gaya hidup sehat (Eduuun lah, mohon diaamiinkan, saudarah-saudarahkuuu) Saya ingin mengusung konsep from farm to table. Biar pengunjung benar-benar bisa menikmati sayuran segar. Fresh from the kebun.

Sabtu, 27 Juli 2019

Insto Dry Eyes untuk Mimin Untuk Kita Semua


“Karena Insto Dry Eyes adalah kunci. Untuk menghadapi gempuran pertanyaan, keluhan, curhatan dan php-an para pelanggan setiap hari”
Kalimat di atas saya kutip dari Mae, tetangga saya yang berprofesi sebagai admin toko online. Lebih populer disebut mimin. Rumahnya tidak jauh dari rumah saya. Hanya selemparan wangi bala-bala dan gehu. Toko online yang dia pegang kebanyakan adalah baju anak-anak dan pakaian muslim. Tidak hanya menjawab seputar pertanyaan produk, Mae juga sering mengisi konten pada halaman media sosial di mana dia menjadi garda terdepan.

Tetangga Mae yang menempati kamar no. 10, paling pojok,  satu lantai di atas adalah Kang Jhony. Setelah malang-melintang dan mencoba berbagai profesi. Dari menjadi guru les, petugas ekspedisi dan ojek online. Kang Jhony menerima tawaran menjadi admin toko online yang menjual berbagai aksesories otomotif dari mantan costumernya pada saat dia narik ojol. Tampang kekar dengan rambut ikal yang selalu diikat ini, menyatakan siap jika ada akun gosip yang melamar menjadikannya mimin. Siap 24 jam menerima ghibah-ghibah nasional maupun internasional dari nara sumber tertelusur.